Munculnya RRC dengan cepat sebagai produsen minyak yang besar telah mengakibatkan perubahan-perubahan fundamentil atas peta geo-politik Asia. Hanya dengan mempergunakan cadangan-cadangan minyak yang terdapat di daerah lepas pantainya dan di Teluk Po Hai, Peking tampaknya akan dapat mencapai tingkat produksi yang dewasa ini dicapai oleh Saudi Arabia pada tahun 1988 atau segera sesudahnya1. Dengan mengeksploitasi pula landas kontinen bawah lautnya, dalam waktu dua dekade mendatang Peking mungkin akan dapat menyaingi negara-negara penghasil minyak utama dewasa ini. Persiapan-persiapan RRC untuk mengembangkan potensi minyak lepas pantai tampak makin bertambah intensif, hingga menimbulkan kepekaan-kepekaan baru dalam pertikaian yang sudah lama berlangsung dengan Taiwan dan Korea Selatan, tentang status bagian-bagian wilayah landas kontinen yang dianggap oleh banyak fihak mengandung cadangan-cadangan minyak dan gas alam yang belum diselidiki dan yang terkaya di dunia. Pada waktu yang sama, RRC mempergunakan ekspor minyaknya untuk membeli dan menyingkirkan negara-negara pengklaim lainnya terhadap cadangan-cadangan daerah lepas pantai yang dipertengkarkan itu, terutama Jepang, Korea Utara, dan Vietnam Utara.
Bagi Amerika Serikat (AS), munculnya RRC sebagai suatu raksasa minyak bukan berarti munculnya sebuah sumber minyak baru yang berkwantitas besar, ataupun munculnya secara mendadak suatu kesempatan untuk “memecahkan OPEC”. Efek dari peningkatan ekspor minyak RRC itu hanyalah menunjukkan berkurangnya ketergantungan dunia pada Timur Tengah dan Teluk Persia. Sedangkan yang akan memperoleh keuntungan langsung dari peningkatan ekspor minyak RRC adalah Jepang dan negara-negara langganan lainnya yang secara politis mendapat keringanan, terutama negara-negara pembeli di Asia. RRC dengan gigih telah menolak usaha-usaha perusahaan minyak Amerika Serikat untuk mengkaitkan ekspor minyak RRC dengan bantuan teknis AS dalam melaksanakan pengembangan penggunaan potensi bawah lautnya. Secara aktif RRC berusaha sendiri untuk memperoleh peralatan-peralatan dan kemampuan teknis guna operasi lepas pantai, dan prospek kegiatan Uni-lateral RRC di landas kontinen inilah yang membuat usaha Peking mengejar posisi kekuatan minyak menjadi perhatian utama para pengambil keputusan di AS.
* Artikel ini diterjemahkan dan dipersingkat oleh Redaksi dari artikel penulis di bawah judul “Time Bomb in East Asia” dalam Foreign Policy, No. 20, Fall 1975.
1 Pada 1974 Saudi Arabia menghasilkan minyak sebanyak 412 juta ton. Sebuah perkiraan Jepang yang dapat dipercaya memproyeksikan produksi RRC sebesar 440 juta ton pada tahun 1985–lihat JETRO China Newsletter, yang diterbitkan oleh Japan External Trade Organization, Tokyo, April 1975, terutama tentang “Model II”, hal. 16-17. Proyeksi ini memperhitung kan di dalamnya penemuan-penemuan dari sebuah studi Nomura Research Institute. Sebagai kontras, seorang analis Taiwan memperkirakan bahwa andaikata pun RRC di asumsikan bekerja dengan kondisi optimal, mereka tak akan dapat mencapai produksi 400 juta ton sebelum 1990-1998 (Issues and Answers, Taipeh, Maret 1975, hal. 76). Analisa saya sendiri cenderung kepada proyeksi Jepang tapi dengan tetap memperhitungkan adanya kemungkinan keterlambatan-keterlambatan logistik.