Prisma

Mobilitas Penduduk dan Perubahan di Pedesaan

Studi Kasus di Jawa Barat

Mobilitas penduduk dari desa ke kota menghasilkan dampak positif dan pengaruh negatif terhadap desa asal dan masyarakat pedesaan. Perubahan sosial-ekonomi dan sosial-budaya di daerah pedesaan akibat mobilitas penduduk di daerah Jawa Barat yang merupakan studi Asep Djadja Saefullah ini memberikan kontribusi terhadap kekayaan khazanah studi Kependudukan di Indonesia. Intervensi kebijaksanaan pemerintah perlu mengarahkan mobilitas penduduk menjadi peluang percepatan proses pembangunan pedesaan.

Pada hakekatnya mobilitas penduduk merupakan refleksi perbedaan pertumbuhan dan ketidakmerataan fasilitas pembangunan antara satu daerah dengan daerah lain. Orang-orang dari daerah yang fasilitas pembangunannya kurang akan bergerak menuju ke daerah yang mempunyai fasilitas pembangunan lebih baik. Demikian juga terjadinya gerak mobilitas penduduk antara desa dan kota didorong karena pertumbuhan desa masih ketinggalan daripada pertumbuhan kota. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa fasilitas pembangunan kota jauh lebih lengkap daripada fasilitas pembangunan desa.

Sekalipun demikian, tingkat arus gerak penduduk tersebut tidak terlepas dari karakteristik sosial-ekonomi dan sosial-budaya daerah yang bersangkutan. Terbatasnya sumber daya alam dan kebutuhan ekonomi akan menjadi faktor pendorong bagi orang-orang untuk pergi dari daerahnya. Tetapi di pihak lain, norma sosial dalam kehidupan masyarakat setempat bisa menjadi salah satu alasan untuk tidak pergi meninggalkan desanya.

Sementara itu gerak mobilitas penduduk lebih banyak disoroti dari dampak negatifnya dan sedikit sekali telaah mengenai pengaruh positifnya. Pada kenyataannya mobilitas penduduk mempunyai andil yang cukup besar terhadap proses pembangunan baik di daerah asal maupun di tujuan. Sebagian terbesar tenaga-tenaga kasar yang bekerja di kota datang dari daerah pedesaan baik sebagai penduduk tidak tetap yang pulang secara periodik maupun yang setiap hari melakukan ulang-alik (commuting). Orang-orang desa yang telah berhasil dan menetap di kota pun pada umumnya masih mengadakan kontak dengan desa asalnya. Karena itu dampak mobilitas penduduk perlu dipelajari baik dari segi positifnya maupun dari segi negatifnya.

Dua studi lapangan yang dirancang untuk mempelajari hubungan antara pembangunan regional dengan mobilitas tenaga kerja di Jawa Barat1 menemukan bahwa mobilitas penduduk desa-kota telah mengubah struktur ekonomi dan ketenagakerjaan di desa asal. Studi ini pun menemukan bahwa perbaikan kehidupan ekonomi di kalangan keluarga peserta mobilitas telah menjadi pendorong sebagian penduduk lainnya untuk pergi mengadu nasib di kota. Kemudian suatu studi mengenai pola dan dampak mobilitas penduduk terhadap daerah asal yang dilakukan di beberapa desa di Provinsi-provinsi Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur2, memberikan informasi bahwa mobilitas penduduk di daerah-daerah penelitian mempunyai peranan yang cukup besar di dalam mengubah kehidupan ekonomi daerah pedesaan.

Penelitian mutakhir mengenai dampak mobilitas penduduk di daerah Jawa Barat3, antara lain mempelajari pengaruh mobilitas penduduk terhadap perubahan sosial-ekonomi dan sosial-budaya di daerah pedesaan. Penelitian lapangan dilakukan dua kali dalam jangka waktu satu dekade, yaitu tahun 1979/1980 dan tahun 1989/1990. Pengumpulan data dilakukan baik dengan menggunakan kuesioner maupun melalui participant-observation dan bantuan sejumlah dosen dalam berbagai disiplin yang tinggal bersama-sama di lapangan.

Kedua desa yang telah dipilih sebagai kasus lapangan adalah Desa Simpangsari, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, dan Desa Leuwikidang, Kecamatan Dawuan, Kabupaten Majalengka. Kedua desa tersebut mempunyai tingkat mobilitas tinggi, tetapi desa pertama tingkat pembangunannya lebih maju daripada desa yang kedua. Pada penelitian lapangan tahun 1989/1990, kedua desa tersebut sudah dimekarkan. Desa Simpangsari menjadi desa Simpangsari dan Desa Pakuwon; Desa Leuwikidang menjadi Desa Leuwikidang dan Desa Girimukti. Mengingat dalam analisa termasuk memperbandingkan situasi dalam dua kurun waktu tersebut, maka keempat desa masih diperlakukan sebagai dua komunitas desa.


1 Lihat, Asep Djadja Saefullah dkk., “Mobilitas Tenaga Kerja dan Ciri-ciri Ketenagakerjaan di Wilayah Pembangunan Banten dan Sukabumi, Jawa Barat,” Laporan Penelitian, Pusat Studi Kependudukan, Universitas Padjadjaran, 1981; Asep Djadja Saefullah dkk., “Mobilitas Tenaga Kerja dan Ciri-ciri Ketenagakerjaan di Kabupaten Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis, Jawa Barat,” Laporan Penelitian, Pusat Studi Kependudukan, Universitas Padjadjaran, 1982.

2 Lihat Ida Bagus Mantra dkk., “Pola Mobilitas Penduduk dan Dampaknya Terhadap Daerah Yang Tinggalkan, Studi Kasus Kabupaten Sukoharjo, Madura, Ciamis, dan Asahan,” Laporan Penelitian, Yogyakarta: Pusat Studi Kependudukan, Universitas Gadjah Mada, 1989.

3 Lihat Asep Djadja Saefullah, “The Impact of Population Mobility on Two Village Communities of West Java, Indonesia,” Ph.D. Thesis, Adelaide: The Flinders University of South Australia, 1992.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan