Prisma

Mobilitas Penduduk Desa-Kota

Jembatan Modernisasi Pedesaan

Indonesia masih menghadapi mobilitas penduduk desa-kota yang tinggi dan mendorong naik angka urbanisasi. Mobilitas penduduk memang merupakan salah satu faktor yang memengaruhi perubahan sosial di pedesaan di samping “peran” lainnya sebagai jembatan penghubung kehidupan desa dengan kota. Menurut H. Asep Djadja Saefullah, kesempatan untuk melihat, mengikuti, dan menyerap secara langsung kegiatan pembangunan di kota pada gilirannya dapat menjadikan pelaku mobilitas “bertekad” melaksanakan pembangunan di desa asalnya.

Pendahuluan

Indonesia masih menghadapi satu fenomena yang kelihatan-nya akan terus aktual sampai dengan tercapainya pemerataan pertumbuhan dan fasilitas pembangunan antardaerah. Feno-mena tersebut dianggap sebahagian orang sebagai masalah besar yang dapat mengganggu proses pembangunan nasional. Feno-mena yang dimaksud adalah mobilitas penduduk dari desa ke kota yang mendorong naiknya angka urbanisasi.

Karena didasari rasa khawatir, maka mobilitas penduduk desa-kota yang sebenarnya merupakan proses alamiah; lebih ba-nyak dilihat dari sisi negatifnya dibandingkan dengan penilaian sisi positifnya. Orang yang datang di kota dianggap sebagai pe-nambah jumlah pengangguran, perusak lingkungan, penambah suasana semrawut, pendorong meningkatnya kejahatan, dan hal-hal lain yang mengganggu kegiatan pembangunan. Di sisi lain, mereka pun dianggap sebagai penghambat kegiatan pembangun-an di desa, penyebab kurangnya tenaga kerja dalam sektor per-tanian, pembawa ulah kenakalan remaja desa, dan sebagainya.

Sebenarnya yang harus dipersalahkan bukanlah urbanisasi, karena urbanisasi merupakan konsekuensi logis perkembangan kota yang membuat orang desa tertarik untuk mendatanginya. Yang kiranya harus ditanyakan adalah: Mengapa orang-orang desa mengalir ke kota sehingga angka-angka urbanisasi mening-kat? Dengan kata lain mengapa terjadi mobilitas penduduk dari desa ke kota? Apakah mobilitas penduduk menguntungkan atau merugikan pembangunan? Melalui tulisan ini akan dicoba di-jawab secara singkat.

Refleksi Ketidakmerataan Pertumbuhan Antardaerah

Mobilitas penduduk merupakan refleksi ketidakmerataan pertumbuhan dan ketidakseimbangan fasilitas pembangunan antardaerah. Orang-orang dari daerah yang pertumbuhannya rendah dan sedikit fasilitas pembangunannya cenderung pergi ke daerah yang pertumbuhannya tinggi dan banyak fasilitas pembangunannya. Karena itu, mengalirnya orang desa ke kota karena pertumbuhan kota jauh lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan desa. Ditambah pula dengan kenyataan yang menunjukkan bahwa fasilitas pembangunan daerah perkotaan jauh lebih banyak daripada di daerah pedesaan.

Dalam menjelaskan hubungan mobilitas penduduk dengan pembangunan daerah ada dua pandangan utama yang berbeda, yaitu neo-classical economics equilibrium perspective dan historical structuralist perspective.1 Berdasarkan neo-classical perspective, mobilitas penduduk merupakan mekanisme untuk mencari keseimbangan antara daerah yang sedikit fasilitas sosial-ekonominya dengan daerah yang banyak fasilitas sosial-ekonominya. Dengan kata lain, mobilitas penduduk berperan sebagai penyeimbang human capital dari daerah-daerah yang kelebihan tenaga kerja tetapi kekurangan modal ke daerah-daerah yang kekurangan tenaga kerja tetapi kelebihan modal. Dalam jangka panjang, mobilitas penduduk mempunyai dampak positif terhadap proses pembangunan, karena ketidakmerataan regional akan dapat diseimbangkan melalui human capital dari gerak perpindahan penduduk.

Berbeda dengan neo-classical economics equilibrium, penganut historical-structuralist mempunyai pandangan bahwa penduduk hanya bisa dipahami dengan baik apabila dilihat pula hubungannya dengan perubahan sosial-ekonomi dan sosial-politik secara menyeluruh. Berdasarkan pandangan ini, mobilitas penduduk lebih banyak mempunyai dampak negatif terhadap proses pembangunan. Sumber daya manusia yang potensial dan fasilitas modal yang baik akan terkonsentrasi pada daerah tertentu sehingga terjadi ketimpangan antardaerah serta menimbulkan masalah sosial dan ekonomi baik di daerah asal maupun di daerah tujuan.

Terapi Mengatasi Mobilitas Penduduk Desa-Kota

Untuk mengatasi mengalirnya mobilitas penduduk dari desa ke kota, pendekatan yang umumnya dilakukan negara-negara berkembang adalah intervensi pemerintah melalui pendekatan pembangunan desa. Pendekatan ini dapat dibedakan dalam tiga macam, yaitu commercialization and capital intensive development, comprehensive rural development, dan colonialization of new agricultural lands.2


1 Lihat, Michael Lipton, “Migration from Rural Areas of Poor Communities: The Impact of Rural Productivity and Income Distribution,” dalam World Development, Vol. 8, 1980, hal. 1-24; Charles H. Wood, “Equilibrium and Historical-Structural Perspective on Migration,” dalam A. Portes dan C. Hirschman, “Theory and Methods in Migration and Ethnic Research,” International Migration Review, Vol. XVI, 1982, No. 2; Graeme J. Hugo, Some Policy Aspects on The Relationship Between Internal Migration and Regional Development in Less Developed Countries with Particular to Indonesia (Centre for Development Studies, The Flinders University of South Australia, 1985).

2 Sally E. Findley, Planning for Internal Migration: A Review of Issues and Policies in Developing Countries (Washington D.C.: U.S. Department of Commerce, Bureau of Census, 1977), hal. 75; Asep Djadja Saefullah, “Mengkalkulasi Perpindahan Penduduk,” dalam Dinamis, Majalah Ilmiah Studi Pembangunan dan Administrasi, No. 2, Thn. I, 1994, hal. 33-36.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan