Pendahuluan
Tidak banyak yang diketahui tentang pola dan perilaku mobilitas penduduk di Indonesia. Kebanyakan studi mobilitas penduduk yang telah ada ditekankan pada perpindahan penduduk menetap atau migrasi.1^$1^n$. Baru pada tahun 1970-an, beberapa peneliti, di antaranya Greame Hugo,2. Koentjaraningrat3. dan Suharso4. mengalihkan perhatian mereka pada penelitian perpindahan penduduk yang tidak menetap. Dari hasil-hasil penelitian tersebut diketahui bahwa banyak orang yang berpindah musiman atau sementara dari desa ke kota atau ke daerah lain. Perpindahan penduduk semacam ini tidak dicatat dalam sensus penduduk di Indonesia, sehingga para analis, terutama analis Barat berkesimpulan bahwa penduduk Indonesia terutama di Jawa sangat immobile.
Dalam rangka perencanaan kebijaksanaan mobilitas penduduk di Indonesia sebagai penunjang pembangunan regional dan juga sebagai salah satu usaha mengatasi kelebihan penduduk di Jawa, pengetahuan tentang pola dan perilaku mobilitas penduduk sangat penting. Penelitian mobilitas penduduk pada masyarakat padi-sawah di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan kasus dukuh Kadirojo dan Piring merupakan salah satu usaha untuk mengisi kekurangan di atas.
Penelitian ini bertujuan: pertama, mengetahui pola dan perilaku mobilitas penduduk; kedua, proses komunikasi dan pengambilan keputusan untuk berpindah (baik tetap maupun sementara) ke daerah lain. Dari penelitian ini diharapkan dapat diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi penduduk untuk berpindah, atau tetap bertempat tinggal di desanya.
Proposisi utama yang diajukan dalam penelitian ini ialah: bahwa faktor ekonomi dan sosial, bersama-sama mempengaruhi penduduk untuk berpindah ke daerah lain atau tetap berdiam di kampung halamannya. Hal ini berlawanan dengan apa yang terjadi di dunia Barat di mana faktor ekonomi merupakan faktor utama yang mendorong seseorang untuk bermigrasi.
Metode penelitian
Untuk dapat mencapai tujuan di atas, perlulah mempersempit wilayah penelitian serta menggunakan hampiran kombinasi antara hampiran geografis, demografis, dan antropologis. Meneliti wilayah yang relatif sempit, informasi yang dikumpulkan dapat lebih luas, mendetail dan akurat daripada penelitian pada wilayah yang luas. Dengan bertempat tinggal di wilayah penelitian dan ikut berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat, memudahkan dalam pelaksanaan penelitian. Meskipun dari penelitian semacam ini tidak mungkin diadakan generalisasi untuk masyarakat yang lebih luas, namun demikian hasilnya tidak akan jauh berbeda dengan masyarakat yang memiliki kesamaan kebudayaan, bahasa, sejarah, dan sistem organisasi sosial yang sama.
* Tulisan ini merupakan ringkasan dari disertasi Ph.D. berjudul: Population Movement in Wet Rice Communities: A Case Study of Two Dukuh in Yogyakarta Special Region, yang telah dipertahankan pada Department of Geography, University of Hawaii, 1978.
1 Lihat misalnya, Karl J. Pelzer, Pioner Settlement in the Asiatic Tropics: Studies in Land Utilization and Agricultural Colonization in Southeastern Asia, (New York: International Secretariat Institute of Pacific Relation), 1945; H.J. Heeren, International Migration in Indonesia, Contributed paper to International Union for the Scientific Study of Population Conference, 21-25 Agustus 1967, di Sydney; Geoffrey McNicoll, “International Migration in Indonesia: Descriptive Notes”, di Indonesia 29-92 (1968); Nevin Arthur Bryant, Tekanan Populasi dan Sumber Daya Pertanian di Jawa Tengah: Dinamika Perubahan. (Ph.D. disertasi Universitas Michigan yang tidak diterbitkan), 1973.
2 Graeme J. Hugo, Mobilitas Penduduk di Jawa Barat Indonesia. (Disertasi Ph.D. yang tidak diterbitkan, Australian National University, 1975).
3 R.M. Koentjaraningrat, Mobilitas Penduduk di Desa Sekitar Jakarta, Buletin Studi Ekonomi Indonesia, 1975, 2, hal. 108-119.
4 Suharso, et. al., Migrasi Perkotaan Pedesaan di Indonesia, (Jakarta: Lembaga Penelitian Ekonomi dan Sosial Nasional, 1976).