Prisma

Model Pembangunan Berdasarkan Pendekatan Sumberdaya Manusia*

Pada tahun 50-an di banyak negara yang termasuk kategori sedang membangun dianut suatu teori bahwa untuk mengejar keterbelakangan dalam berbagai bidang dan melepaskan diri dari dominasi negara maju dalam bidang ekonomi dan kebudayaan ialah melalui usaha peningkatan pertumbuhan ekonomi semaksimal mungkin dan, kalau dapat, secepat mungkin pula. Strategi pembangunan yang didasarkan pada teori tersebut cenderung memberi perhatian utama pada kelompok variabel modal1 yang sangat terbatas jumlahnya untuk kemudian digunakan seefisien mungkin. Lahirlah parameter pembangunan seperti capital output ratio yang menjadi semacam termometer para perencana pembangunan waktu itu untuk mengukur suhu ekonomi nasional. Model pembangunan yang berpacu ke usaha peningkatan pertumbuhan ekonomi belaka, kemudian pada pertengahan 60-an mulai mendapat tantangan dari teori lain, yaitu yang mendambakan perataan pembangunan. Pada mulanya kedua aliran ini mengakui adanya suatu trade-off antara pertumbuhan ekonomi dan perataan pembangunan. Pada permulaan 70-an kedua aliran itu akhirnya rukun dan mengakui bahwa hipotesa trade-off itu tak ada. Sehingga kini di banyak negara yang sedang membangun pembangunan itu selalu bertujuan meningkatkan ekonomi dan perataan sekaligus.2

Timbul pertanyaan: Apakah benar model pembangunan yang sesuai dengan negara yang sedang membangun hanya berdasarkan pendekatan pertumbuhan dan perataan? Menurut penulis, memang tujuan ganda pembangunan yaitu pertumbuhan ekonomi dan perataan adalah jauh lebih baik dari tujuan tunggal tahun 50-an, tetapi usaha meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan menitikberatkan peranan kelompok variabel modal masih tetap dipertahankan seperti konsep 50-an. Berarti secara konsepsional faktor modal masih tetap dianggap sebagai engine of growth. Suatu model pembangunan yang mempergunakan asumsi tersebut termasuk kategori model pembangunan dari Keynes. Dalam model berdasarkan pendekatan Keynes, kelompok variabel sumberdaya manusia diasumsikan sebagai variabel bebas (free factor). Akibatnya, kelompok variabel sumberdaya manusia tidak dilihat sebagai suatu faktor yang strategis. Tegasnya kalau model pembangunan ala Keynes bertujuan untuk mencapai full utilization of physical capacity, maka aliran baru bertujuan bagaimana dapat tercapai full utilization of human resources.

Model pembangunan yang disebut terakhir ini sekarang dikenal dengan model pembangunan yang mendasarkan kepada pendekatan sumberdaya manusia, timbul pada awal 70-an dan kini mulai populer terutama di negara yang termasuk kelebihan tenaga kerja.3 Karangan ini mencoba memberi uraian tentang model pembangunan yang berorientasi pada sumberdaya manusia.4


* Dua setengah tahun yang lalu saya menulis satu artikel berjudul: “Kerangka Dasar Strategi Pembangunan Sosial dan Ekonomi: Pendekatan Sumberdaya Manusia”, dimuat di Ekonomi dan Keuangan Indonesia, No. 4, Desember, 1976. Karangan ini merupakan satu rangkaian buah pikiran dengan yang terdahulu. Perbedaan antara yang dahulu dan sekarang ialah bahwa artikel 1976 lebih bersifat konsepsional teoritis sedangkan artikel 1979 bersifat konsepsional operasional.

1 Arti modal di sini ialah modal fisik.

2 Buku terkenal adalah Hollis Chenery, Mon-tek S. Ahluwalia et al., Redistribution with Growth, Oxford University Press, 1974.

3 Menurut daftar bacaan saya hingga kini baru Tanzania dan Sri-Lanka yang mencoba mengaplikasikan pendekatan sumberdaya manusia dalam pembangunan nasionalnya. Perlu ditekankan di sini bahwa pendekatan sumberdaya manusia yang dikemukakan dalam karangan ini tidak sama dengan konsep yang diterapkan di kedua negara itu.

4 Konsep sumberdaya manusia yang dikemukakan di sini lebih bersifat spesifik Indonesia menurut perspesi saya pribadi.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan