Prisma

Model Pembangunan Cina: Eksperimen Sosialis di Dunia Ketiga

I

Pada tanggal 1 Oktober 1949, Republik Rakyat Cina didirikan. Rakyat Cina, pada akhirnya berdiri tegak dan memasuki babak “Revolusi Sosialis”. Kalimat ini mengisi halaman pertama buku Selayang Pandang Ekonomi Cina, terbitan tahun 1974. Selanjutnya, pada halaman terakhir dalam bab pendahuluan dikatakan bahwa “Cina adalah negeri sosialis, tapi pada waktu yang bersamaan adalah juga sebuah negara yang sedang membangun. Dan karena itu, Cina tergolong dalam Dunia Ketiga”1 Pernyataan bahwa Cina adalah bagian dari Dunia Ketiga, sebenarnya adalah pengakuan yang relatif baru. Pada periode 1949-1958 Cina lebih dekat pada Rusia dan Blok Sosialis. Dalam model pembangunannya ia mengikuti sistem pertanian kolektif dan industrialisasi gaya Stalinis. Pada waktu itu, Cina juga mengandalkan bantuan ekonomi dan teknologi dari Rusia dalam memecahkan persoalan kelangkaan sumber modal dalam negeri (resource gap) dan sumber devisa (foreign trade gap).2 Dari berbagai catatan statistik dapat diketahui bahwa, pada tahun 1960, 61% dari ekspornya dan bahkan pada tahun 1955, 74% perdagangan ekspor-impornya dilakukan dengan kelompok-kelompok negara-negara sosialis.3

Perubahan sikap tentang gambaran diri dan di mana Cina menempatkan dirinya, terjadi pada tahun 1958, ketika Mao melancarkan gerakan lompatan besar yang ditandai dengan pemutusan hubungan dan penarikan bantuan dan ahli-ahli Soviet, sejak mana Cina mulai menganut strategi pembangunan berdikari (self-reliance) yaitu “mempertahankan independensi, memegang prakarsa di tangan sendiri dan mengandalkan pada kemampuan usaha sendiri”, dan di lain pihak “meminimumkan gagasan-gagasan, pengaruh-pengaruh dan aspirasi-aspirasi asing.” 4 Sejak itu mulai beredar di kalangan rakyat semboyan Mao “Pertama miskin dan kedua kosong” (I-ch’ung-erh-pai) yang ingin memberitahukan dan menyadarkan bahwa Cina sebenarnya adalah suatu negara yang secara ekonomis masih terbelakang tetapi sebagaimana kertas yang putih-kosong, lebih leluasa untuk ditulis dengan gambar-gambar yang baru.5

Dan selanjutnya, Cina memang berusaha untuk menyusun model pembangunannya sendiri yang baru. Ia sadar bahwa pola Soviet tidak bisa ditiru, tidak saja karena dianggap tidak cocok dengan situasi nyata dari bumi Cina, tapi juga karena timbulnya kesadaran bahwa Marxisme-Leninisme yang diterapkan terutama oleh Stalin sudah mengandung kepentingan nasional Soviet. Juga pula, model Soviet sudah terkait dengan tahapan tertentu dalam pembangunan, dalam mana Soviet sudah membutuhkan pembinaan satu struktur kenegaraan dengan aparatur birokrasi moderen yang didasarkan pada profesionalisme militer. Kecenderungan untuk meniru pola negara sosialis yang sudah maju-dalam hal ini sebagaimana yang telah dicapai oleh Soviet-memang merupakan gejala yang nyata dan dianut oleh tokoh-tokoh tertentu seperti Liu Shao-ch’i, Teng Hsiao-ping, Lo Jui-ch’ing dan Pieng Tah-huai, dengan ciri-ciri pandangan: mengutamakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi melalui industrialisasi dengan titik berat pembangunan industri berat-dasar-besar, serta pro teknologi tinggi, sistem pemerintahan teknokrasi dan profesionalisme dalam birokrasi dan militer. Di sini Mao-dan hampir ia berdiri sendiri di antara tokoh-tokoh nasional tertinggi lainnya-berbeda pendapat. Ia menginginkan model pembangunan yang cocok dengan taraf perkembangan yang ada, yaitu yang mengharuskan perhatian yang mengutamakan pertanian dan industrialisasi yang berorientasi serta menunjang pertanian. Dan Mao melihat bahwa pola modernisasi Soviet yang dianut mentah-mentah terutama dalam periode 1953-1956, tidak cocok bagi Cina yang sebagian besar terdiri dari petani yang hidup di pedesaan dengan segala keterbelakangan pendidikan dan basis teknologinya.6


1 Cheng Shik, “Sekilas tentang Ekonomi Tiongkok”, (Peking: Foreign Language Press, 1974), hal. 1 dan 6.

2 E.L. Wheel Wright & Bruce Mc Farlane, Jalan Cina menuju Sosialisme, Pelican Books, 1973, hal. 35-36.

3 Bank Dunia, Laporan Pembangunan Dunia 1978, Bank Dunia, Agustus 1978, Tabel 8, hal. 91. Juga dari “Asia 1978 Year Book,” Far Eastern Economic Review, bagian Cina, khususnya statistik Cina Trade, hal. 168.

4 Alexander Eckstein, Revolusi Ekonomi Tiongkok, (Cambridge: Cambridge University Press, 1972), hal. 284.

5 Lucian W. Pye, Cina: Pendahuluan, (Boston: Little Brown & Co., 1972), hal. 281.

6 Benjamin Schwartz, “Modernisasi dan Visi Maois: Beberapa Refleksi tentang Tujuan Komunis Tiongkok”, dalam Roderick Mac Farquhar, China Under Mao: Politics Takes Command”, hal. 8-11.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan