Prisma

Modernisasi Pedesaan: Pilihan Strategi Dasar Menuju Fase Lepas Landas?

Pendahuluan

Modernisasi bukanlah istilah dan proses yang teramat baru. Menurut seorang ahli ilmu politik1¹ abad kita, modernisasi sudah berjalan di Eropa sejak abad ke-15. Untuk negara-negara Asia sekalipun, istilah modernisasi paling tidak sudah dikenal kurang lebih selama satu abad, yaitu sejak terjadinya industrialisasi Jepang, yang lewat pertengahan abad ke-20 tergolong yang paling giat mengusahakan modernisasi tersebut.

Ditinjau dari segi sejarah agaknya dari waktu ke waktu pemerintahan baru di berbagai negara yang menyatakan dirinya sedang berkembang cepat, merasa perlu untuk menyajikan usaha pembangunannya sebagai program modernisasi.

Apakah gerangan yang terkandung dalam istilah modernisasi tersebut? Jawabannya memang tidak semudah yang kita duga. Variasi isinyapun terlalu banyak untuk dapat dibahas satu demi satu. Walaupun demikian berdasarkan contoh-contoh yang dapat di tunjuk dalam sejarah secara sepintas-kilas, nyata pada kita adanya beberapa ciri khas yang termaktub dalam istilah seperti modernisasi dan pembangunan (development).

Di benua Asia, negara yang boleh dikatakan mempelopori proses modernisasi adalah Jepang sejak pemerintahan Kaisar Meiji (1868-1900). Di bawah Meiji Tenno kekuatan-kekuatan sosial politik Jepang berhasil menciptakan landasan yang cukup ampuh untuk menggerakkan roda perekonomian, lebih khusus dengan mengembangkan industri beratnya: baja, perkapalan dan persenjataan. Hasil-hasil proses modernisasi tersebut “diuji” dalam perang antara Jepang dan Rusia (1904-1905), yang berakhir dengan kemenangan Jepang dan pendudukan beberapa wilayah Rusia di bagian utara Timur Jauh. Untuk pertama kali dalam beberapa ratus tahun terakhir suatu negara Asia merubah keyakinan di kalangan elite bangsa Asia bahwa negara Barat yang besar dapat dikalahkan dengan tekad keras disertai teknologi yang ditiru dari negara-negara Barat itu.

Memang ada benarnya bila dikatakan bahwa pada hakekatnya sampai sekarang negara-negara seperti Inggeris, Perancis, Jerman dan Amerika Serikat tidak menganggap Rusia sebagai sebuah negara atau kebudayaan yang sepenuhnya “Barat”, akan tetapi perbedaan yang semacam itu boleh dikatakan tidak mempengaruhi penggolongan Barat vs Timur yang dianut oleh elite Asia. Baginya pada awal abad ke-20, sewaktu daerah jajahan negara-negara Barat masih membentang dari anak-benua Indo-Pakistani sampai ke kepulauan Bismarck di lautan Pasifik, hanya ada persepsi pertentangan Barat vs Timur yang agak kasar, kurang mempunyai variasi dan yang sedikit banyak diakibatkan oleh perjuangan melawan kolonialisme negara-negara Eropa.


1 Joseph LaPalombara, “Distribution and Development”, dalam M. Weiner (ed.), Modernization: The Dynamics of Growth, (Cambridge, Mass.: Voice of America Forum Lectures, 1966), hal. 237.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan