I. Modernisasi
Modernisasi adalah suatu proses perubahan serba cepat, serba baru, terkadang radikal dan terus menerus. Terjadilah perbenturan nilai-nilai, baik yang lama dengan yang baru dan dengan bayangan masa depan. Tak heran bila sejarah menunjukkan bahwa disintegrasi, dehumanisasi dengan frustasi-frustasi serta ledakan-ledakan kompensasinya bukan hanya membayangi proses modernisasi, tapi seakan sudah pesan tempat untuk masa depan. Hal ini bukan hanya dialami negara-negara yang kini telah maju, tetapi telah terasa pula di negara-negara sedang berkembang, termasuk Indonesia.
Tapi sejarah menunjukkan pula bahwa modernisasi tak dapat ditolak bila kita ingin mempertahankan eksistensi kita, baik sebagai bangsa maupun negara. Tanpa science dan technologi yang merupakan tulangpunggung modernisasi, maka kita akan selalu terbelakang dan tertinggal oleh roda sejarah.
- Sementara itu benarkah disintegrasi, dehumanisasi dengan frustasi-frustasinya adalah bayaran yang wajar untuk mencapai modernisasi? Tak adakah kemungkinan menjadikan proses modernisasi sebagai bagian yang integral dari proses membudaya?. Sebagian cendekia-cendekia berpendapat perlunya dibatasi “daerah” perbenturan nilai-nilai, sebagian lagi berpendapat perlu diperlunak atau diperlambatnya perbenturan-perbenturan tersebut. Sebagian lagi berpendapat bahwa hanya suatu rencana yang menjangkau jauh kemuka dan meliputi semua bidang — termasuk pendidikan — yang akan dapat mengurangi disintegrasi dan frustasi-frustasi masa depan tersebut.
- Sejarah negara-negara yang telah maju menunjukkan bahwa masih tampak kekurangan-kekurangan dengan segala yang telah ditempuh selama ini. Derita-derita frustasi dan ledakan-ledakan kompensasinya bukan mereda, tapi menjangkau scope yang makin mengkhawatirkan. Dari kenakalan anak-anak jadi kejahatan anak-anak, dari student-movement jadi student unrest & revolt, dari hippies jadi generasi ganja, morfin, LSD, dsbnya.