Prisma

Modernitas: Antara Solusi dan Problematika

Anthony Giddens, The Consequences of Modernity, Stanford, California: Stanford University Press, 1990, X + 186 halaman.

I

Salah satu pertimbangan Giddens untuk menulis buku ini adalah keinginannya untuk membangun analisis kelembagaan modern (dalam pengertian sosiologis) dengan menambahkan analisis tentang kebudayaan dan basis epistemomologi. Giddens antara lain mengemukakan ketidakpuasannya terhadap penjelasan-penjelasan teoritis yang diberikan oleh sosiologi konvensional dalam menafsirkan sejumlah aspek yang melingkupi gejala modernitas abad 20 (hal. 1 & 3). Secara khusus, ia “menyerang” posisi Jean Francois Lyotard yang menyatakan bahwa fenomena khas kekinian muncul adalah cermin dari diskontinuitas sejarah yang bergerak dari era produksi barang-barang manufaktur ke era yang lebih terkonsentrasi pada produksi informasi, dan oleh karenanya, membuyarkan asumsi-asumsi grand narrative (hal. 2).

Dalam pandangan Giddens, penafsiran atas fenomena masa kini tidak seperti yang dibayangkan dalam perspektif Lyotard. Diskontinuitas sejarah, menurut Giddens, tidak terletak di antara era modernitas dan pasca modernitas (post-industrial society, post-capitalism atau apapun istilah yang dilabelkan untuk era sekarang ini), melainkan terletak di dalam modernitas itu sendiri (hal. 4). Dalam hal ini Giddens mengemukakan pula bahwa “discontinuity” tersebut juga tidak bersandar pada filsafat historis-materialisme-nya Marx yang beranggapan bahwa proses perkembangan sejarah ditentukan oleh pergeseran mode of production.

Namun demikian, pada dasarnya Giddens setuju terhadap pandangan post modernism tentang pergeseran penting dalam pentahapan sejarah modernitas dewasa ini. Serangan Giddens terhadap cara pandang post modernism kaum post modernist agaknya terletak pada soal penafsiran atas situasi konkrit modernitas dewasa ini. Menurut Giddens, perspektif post modernism telah mengundang kontroversi yang akan menjurus pada polemik filsafat dan epistemologi (hal. 2). Agaknya, di mata Giddens, kalangan post-modernist terlampau cepat menarik kesimpulan atas situasi kekinian yang memang telah mengalami perubahan “substansi” itu. Lebih lanjut ia berpendapat bahwa dunia memang tengah bergerak memasuki suatu “fase sejarah” yang berbeda dari sebelumnya, yang olehnya disebut sebagai high modernity period atau radicalized modernity (hal. 3 & 149-150), dan oleh karenanya tidak ada alasan untuk membuat penafsiran bahwa periode sekarang merupakan fase post-modernity (hal. 3).

Menurut guru besar sosiologi pada Universitas Cambridge, Inggris itu, era sekarang ditandai oleh intensitas proses modernisasi yang lebih radikal dan universal dibanding sebelumnya, sejak ia melintasi batas-batas teritorial benua Eropa dan kemudian menjangkau hingga berbagai pelosok dunia. Apa yang ia formulasikan sebagai “lebih radikal dan universal” itulah yang menggarisbawahi pernyataannya tentang diskontinuitas partikular di dalam modernitas. Karakteristik penting dalam periode puncak modernitas itu diantaranya adalah proses pemisahan ruang dan waktu. Sejarah umat manusia belum pernah memperlihatkan gejala pemahaman akan waktu secara universal seperti masa sekarang. Menurut Giddens, tak seorang pun di dunia saat ini yang tidak menantikan berakhirnya abad 20; suatu bukti tentang gejala keuniversalan persepsi tentang waktu. Berbeda dengan masyarakat pra modern di mana persepsi tentang waktu kerap berkorelasi secara positif terhadap aktifitas sosial dalam skala lokal. Dengan demikian, dimensi waktu dalam era modern ini sebenarnya telah kehilangan pijakan lokalnya. Standarisasi waktu sedemikian rupa telah menyatukan region-region ke dalam suatu keuniversalan (hal. 17-18). Di samping itu, modernitas yang ditandai oleh semakin intensifnya hubungan-hubungan sosial impersonal secara korelatif mengakibatkan munculnya suatu pola hubungan antar-individu yang tidak lagi berpijak pada “the others,” meskipun dalam pengertian yang abstrak. Hal ini terutama didorong oleh pesatnya revolusi teknologi komunikasi dalam skala global.

Apa yang patut dideteksi dari gejala modernitas dewasa ini – di samping persoalan keterpisahan waktu dan ruang – adalah resiko sebagai akibat akselerasi modernisasi yang sangat pesat. Dalam pandangan Giddens, fenomena modernitas memperlihatkan apa yang diistilahkannya sebagai the double edge phenomenon. Di satu sisi modernitas menawarkan sejumlah peluang bagi siapa pun untuk meraih kenyamanan dalam hidup, di sisi lain ia juga menyodorkan kegetiran-kegetiran sebagai harga yang harus dibayar oleh setiap individu penghuni planet ini (hal. 8 & 9).

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan