Prisma

Mohammad Hatta, Cendekiawan, Aktivis dan Politikus

Pengantar

Sampai sekarang amat jarang kita temui tulisan yang mendalam tentang seseorang yang menjadi tokoh dalam masyarakat dengan mengetengahkan buah pikirannya, perwatakannya, dan arti kehadirannya di tengah-tengah kita. Dengan maksud mengisi kelangkaan ini, mulai penerbitan No. 1 tahun 1982, majalah Prisma menampilkan rubrik Tokoh, sebagai rubrik tetap yang akan mengunjungi sidang pembaca setiap bulan. Rubrik ini merupakan studi pendek dan mendalam tentang tokoh-tokoh yang dimaksud. Redaksi.

Sejak masih duduk di bangku kuliah, dan hidup di alam penjajahan, pemuda belasan tahun Mohammad Hatta sudah membayangkan sistem pemerintahan paling tepat bila Indonesia merdeka. Demokrasi parlementer dengan banyak partai sebagai sistem pemerintah-tah, dan koperasi untuk menghindari munculnya kapitalis Cina dan Arab, atau kapitalis Indonesia yang menjadi alat asing, sudah diketengahkannya awal tahun 1920-an. Sampai akhir hayatnya, demikian John Ingleson, hampir seluruh perhatiannya dia tumpahkan bagi Indonesia, walau sebagaian besar cita-citanya tak menjadi kenyataan.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan