Di samping Soekarno-Hatta, dalam revolusi kemerdekaan muncul pula pemimpin-pemimpin lainnya yang memberi fokus perjuangan pada ideologi agama maupun ideologi Marxis (sosialis dan komunis). Mereka memobilisir massa dan pada saat yang sama menimbulkan konflik karena persaingan di antara sesama mereka, khususnya di antara yang menganut ideologi Marxis. Tan Malaka, seorang di antara pemimpinnya, dibicarakan peranannya oleh Manuel Kaisiepo. Ia mempunyai visi sendiri tentang revolusi dan berdasarkan visi itu ia berjuang walaupun akhirnya kalah. Lebih dari itu, ia ternyata lebih nasionalis daripada seorang komunis.