Prisma

Musik Pop Indonesia: Satu Kebebalan Sang Mengapa

Dan barangkali ini celakanya; pop sudah diterima sebagai suatu aib. Orang tak suka lama-lama menyiapkan hati pada diskusi pop, lantaran khawatir kehilangan penghargaan umum terhadap kesungguhannya berfikir.

Tak bisa dimaki-maki orang yang mau begitu. Pop pada awalnya memang telah hadir dengan mengundang seribu satu nyinyir di bibir. Ia musik yang terhujat dari keluarganya. Bukan semata di Indonesia. Tapi juga dimulai di Amerika, dari mana perdagangan seni model begini ditemukan orang resepnya.

Dari sudut estetika ia telah tumbang kehilangan hak jawabnya. Ia tak tahan kritik. Berhakim-hakim perikata kritik, berarti keawasan menghadapi obsesi dengan menerawangkan akal dan budi untuk melayani satu pokok perumusan kaidah, di mana kita dibawa pada hak penentuan obyektif atas pilihan baik-buruk, bagus-jelek, indah-tak indah. Namun, raja-raja pop, yaitu mereka yang telah memulai matapencarian ini lebih kurang 20 tahun lalu lewat bengoak-bengok seadanya di belakang mikrofon dengan akompanimen gitar melodi, gitar kocok, bas betot dan bedug Inggeris, ikhwalnya tidaklah pula suka memberi pertanggungjawaban kenapa musik pop jadi begitu sembarang.

Para cendekia musik yang agak punya latarbelakang klasik, mencela habis pop sebagai seni-seni yang istilah Inggerisnya: dumb, vulgar, cheap, tasteless, rough, crude, degrading, uninspired. Tapi raja-raja pop yang sudah kayaraya karena pop, seperti Elvis Presley yang setiap kali bisa memberi hadiah Cadillac pada siapa saja yang memujinya, rupanya memang enggan memberi jawaban tentang itu.

Mudah-mudahan saja bab enggannya pemusik pop memberi pertanggungjawaban, bukan sebab mereka bodoh, tapi karena bidang ini yang sudah biasa memanjakan mereka untuk tidak usah panjang-panjang berfikir.

Musik pop adalah musik niaga. Maka jika pemusik pop diminta berfikir, mereka akan berfikir tentang laba. Orang yang mencipta, menyanyi, dan jadi cukong untuk merekam lagu pop, adalah orang yang tak memikirkan soal apakah yang direkamnya itu punya nilai etis, dan apakah seni itu tahan uji terhadap sebuah kritik yang artinya estetis, atau tidak. Yang difikirkannya adalah bagaimana jika rekaman itu rampung dan diiklankan selama sebulan di TVRI dengan biaya Rp 2,5 juta, lantas darinya ia mendapat laba Rp 25 juta.

Tidaklah mengherankan kalau kedudukan pop menjadi amat manja. Masyarakat memanjakan mereka. Seorang penyanyi pop di Indonesia yang sekolahnya tidak keruan yang menghafal nyanyian bahasa Inggeris dengan fasih kendati tak faham seluruh isi syair kecuali I love you-nya wungkul, telah menjadi amat manja, sebab dengan kemampuan yang pas-pasan itu saja tokh masyarakat telah memuliakan dia.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan