Sejarah keterlibatan golongan Islam dalam politik, juga menyangkut kepentingan kelas, di mana santri golongan menengah pedagang dan warga kota, dan santri golongan petani, memiliki pandangan berbeda. Politik revolusioner SI, non politik NU dan Muhammadiyah, serta radikalisme kelompok santri yang tersisih, memberikan ciri pada evolusi selama empat dasawarsa. Menurut Kuntowidjojo, penguasa kerapkali lebih suka mengambil santri yang berkebudayaan otoriter tradisional dari golongan menengah petani, sebagai kawan politik. Pelaksanaan jiwa kewarganegaraan tampaknya harus melalui jalan panjang.
* Makalah ini pernah disajikan dalam Seminar tentang “History and Underdevelopment: The Cambridge-Delhi-Yogyakarta-Leiden Project for the Comparative Study of Indonesia and India”, dilangsungkan di New Delhi, 2-6 Januari, 1985.