Prisma

Negarawan

Hannibal adalah panglima tentara Cartago, pesaing utama kekaisaran Roma. Tokoh ini senantiasa menakutkan Roma yang dalam masa-masa tersebut adalah super power dalam kancah politik dunia. Namun seluruh Roma berada dalam ketakutan, bila mendengar bahwa Hannibal telah datang untuk menyerang Roma. Dan menjadi terkenal ungkapan yang menjalar ke seluruh kota dan sekaligus berfungsi seperti bunyi sirene tanda bahaya di Roma: Hannibal ante portas! Hannibal di depan pintu, dan bersiagalah!

Ketika menulis tentang kebangkitan negara-negara Asia yang melepaskan diri dari kolonialisme Barat Walter Leifer, penulis Asien, Erdteil der Entscheidung mengutip kata-kata siaga yang menjadi sirene di Roma dengan mengatakan: Asia ante portas. Asia berada di depan pintu dan berhati-hatilah dunia Barat. Dengan kebangkitan Asia, demikian Walter Leifer, dunia Barat sebenarnya dihinggapi semacam apokalyptische Angst, ketakutan apokaliptik. Ketakutan bahwa akan dituntut dan diadili karena dosa-dosa kolonialisme. Dan yang disebut Hannibal dari Asia mengambil wujud dalam pribadi-pribadi kaliber Gamal Abdel Nasser, Jawaharlal Nehru, Mahatma Gandhi, Mao Zedong, Soekarno dan lain-lain. Kemenangan Jepang di tahun 1905 atas Rusia juga pertanda bahwa seruan Asia ante portas bukan tanpa makna. Fakta itu sering dipakai sebagai bukti bahwa bangsa Asia bukanlah yang terendah di kalangan bangsa-bangsa di dunia. Di Indonesia pun kemenangan itu bagaikan pecut yang membangkitkan semangat nasionalisme yang pada gilirannya lagi melahirkan kaum nasionalis yang juga tidak lebih rendah dari Hannibal Asia lainnya.

Di sini kita lihat bahwa dunia kolonialisme dan semangat menghancurkannya menjadi suatu dataran, medan yang menentukan peran jenis mana, dan jenis mana pula pemerannya. Dataran semacam itu hampir dengan sendirinya melahirkan pemeran-pemeran yang dalam arti tertentu menggetarkan seperti panglima dari Cartago, yang disebut negarawan. Bila politikus memikirkan bagaimana mempertahankan kursi dalam pemilihan umum berikutnya, negarawan memikirkan apa yang akan terjadi dengan generasi-generasi berikutnya. Perbuatan di masa kini adalah penentu bagi jatuh dan bangun bangsanya. Dengan demikian seorang negarawan memperlihatkan komitmen secara total. Di sini kita baca profil seorang negarawan.

Namun dengan terhapusnya kolonialisme, dianggap sudah bangkit suatu zaman baru yang tidak membutuhkan lagi kehadiran Hannibal dalam politik. Apakah itu harus berarti bahwa dengan hilangnya pribadi-pribadi besar seperti itu menghilang pula profil negarawan? Di tanah air pun tidak kurang orang yang berbicara tentang krisis di mana suatu bangsa tidak lagi memiliki negarawan dan kita hanya punya calo dalam politik. Mungkin dalam konteks ini pula dipersoalkan mengapa kita tidak mampu lagi memegang peranan dalam politik dunia. Namun di sini ada dua soal yang seharusnya dipilah-pilah karena mengelirukan bila dijadikan satu. Pertama, apakah selalu perlu berperan dalam panggung dunia? Kedua, mengapa mereka dulu mampu memegang peranan dalam politik dunia? Ada dua jawaban yang bisa diberikan yaitu bahwa tokoh-tokoh itu memiliki karisma di mata dunia. Atau mereka mampu menangkap kenyataan dan dari sana membentuk suatu dataran, yang pada gilirannya dengan sendirinya menciptakan peranan dan bukan sebaliknya. Bila yang sebaliknya yang terjadi yaitu terlalu gandrung mempertontonkan peranan tanpa dataran politik internasional mungkin tidak berarti lain daripada ikut menari dengan irama gendang yang ditabuh orang lain.

Namun patah atau tumbuhnya negarawan dalam gelanggang internasional bukan suatu produk terlepas. Dia hanya merupakan buah dari satu pohon yang kita tanam sendiri. Alasan sering dikemukakan dengan mengatakan bahwa zaman ini tidak lagi menghendaki manusia jenis itu. Masa ini tidak lagi merupakan tempat subur bagi lahirnya negarawan. Namun kemuskilan masalah masa kini tidak lebih ringan dari yang dulu. Dan ini pun berarti kita memerlukan orang yang bukan sekedar calo dalam politik.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan