Prisma

Novel-novel Populer Indonesia

Telah cukup banyak pembicaraan tentang novel-novel serius Indonesia yang biasanya dimasukkan dalam kategori kesusasteraan dengan “K” besar. Sekurang-kurangnya sudah terbit empat buku yang membicarakan novel-novel itu, yakni Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia oleh Ajip Rosidi, Pokok dan Tokoh oleh A. Teeuw, Perkembangan Novel-novel Indonesia oleh Umar Junus dan Sejarah Sastra Indonesia Modern oleh Bakri Siregar. Tetapi di luar sejumlah novel Indonesia yang dibicarakan keempat tokoh tersebut (yang kalau dijumlahkan buku novel yang mereka bicarakan ada sekitar 173 buah) telah terbit pula sejumlah besar novel “picisan” yang biasanya dianggap kurang penting dan kurang serius sehingga dilewatkan dalam pembicaraan kesusasteraan. Padahal jumlah novel atau roman “picisan” ini jauh lebih besar dan lebih banyak dibaca pada zamannya. Sebuah sumber dari zaman sebelum Perang Dunia Kedua, yakni seperti dimuat dalam buku “Balai Pustaka Sewajarnya”, menyebutkan bahwa “… akan mengetahui betapa benar keadaan buku-buku semacam itu, maka pada tahun 1938 diminta oleh Balai Pustaka kepada penerbit-penerbit supaya mengirimkan buku-bukunya kepada Balai Pustaka. Sejak itu sampai perang terjadi, sudah terkumpul oleh Balai Pustaka 650 buku. Itupun tidak semua orang mau mengirimkan buku-bukunya kepada Balai Pustaka, istimewa penerbit buku yang mendapat kritik yang keras itu.” Jelas bahwa dalam jangka waktu 4 tahun saja para penerbit mampu mencetak 650 buku. Jumlah ini berarti tiga kali lipat dari seluruh novel serius sejak 1920 sampai sekarang.

Dan kalau dikumpulkan semua jenis roman picisan itu dari sejak timbulnya di Indonesia sampai sekarang saya kira lebih dari 2.500 buku. Perkiraan itu didasarkan pada banyaknya seri roman yang terbit tiap bulan dari masa sebelum perang. Pada masa itu di kalangan masyarakat Cina saja terdapat sekurang-kurangnya 6 seri penerbitan ditambah dengan sekitar 15 penerbitan apa yang disebut sebagai “roman Medan.” Dari penerbitan seri itu saja diperkirakan ada 1.000 novel Cina-Melayu (antara tahun 1925-1941). Dan dari “penerbitan Medan” diperkirakan 400 novel selama 3-4 tahun. Jumlah 1.400 novel itu harus ditambah dengan penerbitan roman Cina-Melayu sebelumnya dan novel-novel pengarang Indonesia sendiri sesudah kemerdekaan. Jumlah 2.000 atau 3.000 judul novel “picisan” semacam itu sungguh menarik apabila berhasil dikumpulkan.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan