Setiap manusia selalu memainkan berbagai peran dalam hidupnya. Persoalannya kemudian, tidak semua orang bisa dengan baik memerankannya secara bersamaan. Apalagi jika peran yang disandangnya itu secara sosial dan politik disorot oleh masyarakat. Nugroho Notosusanto adalah termasuk sedikit orang yang harus memainkan berbagai peran berat dalam hidupnya, yakni sebagai pendidik, sejarawan dan juga pejabat tinggi negara.
PADA hari Senin, 3 Juni 1985, di sebuah rumah tinggal di kompleks Menteri Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Nugroho Notosusanto, Rektor Universitas Indonesia merangkap Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, menutup mata untuk selama-lamanya. Keesokan hari, jenazahnya di semayamkan sebentar di Universitas Indonesia, Alma Mater almarhum, sebelum diantar dengan iring-iringan menuju ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
Di bangsal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, ada ratusan atau mungkin ribuan mahasiswa Universitas Indonesia harus berdesak-desakan memberi penghormatan terakhir kepada almarhum serta mengucapkan duka cita yang mendalam kepada keluarga yang ditinggalkan. Istri, Irma Savitri dan ketiga anaknya: Indrya Smita, Inggita Suksma dan Narottama. Di Taman Makam Pahlawan, ribuan pelayat mengantar jenazah almarhum ke tempat peristirahatan yang terakhir. Pada saat itu sejumlah mahasiswa Universitas Indonesia, penghuni asrama Daksinapati, membentangkan spanduk yang cukup panjang dan bertuliskan, Selamat Jalan Bapakku. Kesemuanya ini merupakan simpati dan duka yang dalam terhadap almarhum Nugroho Notosusanto. Kepergiannya jelas merupakan pukulan yang berat buat Civitas Akademika UI, tetapi itulah kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa.
* Tulisan ini tidak akan pernah selesai tanpa keterangan yang diberikan Sdr. Pandji Kenny. Atas bantuannya, terima kasih.