* Artikel ini ditulis setelah 6 bulan, dari rencana 9 bulan, melakukan penelitian lapangan di Pulau Komodo untuk doktoral pada School of Geography, Earth, and Atmospheric Sciences, University of Melbourne yang didanai oleh Beasiswa LPDP. Nama narasumber dalam tulisan diinisialkan demi menjaga privasi dan bagian dari etika penelitian.
Konservasi dan pariwisata di Taman Nasional Komodo hanya menyisakan residu bagi penduduk lokal. Alih-alih memberi ruang kepada Ata Modo sebagai penjaga ekologi yang telah teruji menyulam harmoni antara manusia dan non-manusia, praktik konservasi malah membatasi mobilitas dan ruang hidup mereka. Semakin ironi ketika utak-atik zonasi konservasi demi masuknya investor besar melalui kebijakan pariwisata premium, warga lokal malah menjadi figuran di tanah dan lautnya sendiri. Dari untaian sejarah lisan, kajian pustaka, serta observasi etnografis, tulisan ini mengangkat pengalaman panjang Ata Modo berhadapan dengan rezim konservasi dan pariwisata di dalam ruang yang sama, yaitu Pulau Komodo. Temuan menariknya adalah konservasi dan pariwisata menjadi pretext atas semakin dalamnya ke(tidak)adilan spasial yang dialami warga. Ini bertautan dengan masih kuatnya anggapan bahwa Ata Modo ancaman bagi konservasi dan pariwisata yang diaksentuasikan dalam narasi sejarah serta keseharian mereka.
Kata Kunci: Ata Modo, keadilan spasial, konservasi, pariwisata, Taman Nasional Komodo