Prisma

OKB Asia, Quo Vadis?

Richard Robison dan David S.G. Goodman (ed.) The New Rich in Asia: Mobile Phones, McDonalds and Middle-Class Revolution London and New York: Routledge, 1996, xii + 253 hal, indeks

Salah satu fenomena yang menarik untuk diamati perkembangannya di kawasan Asia Timur dan Tenggara — terutama sejak dua dekade belakangan ini — adalah tumbuhnya segmen sosial baru yang memperoleh limpahan rejeki pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi. Sepenggal anak judul buku ini dengan tepat memberikan gambaran tentang atribut gaya hidup yang melekat pada golongan masyarakat ini: mobile phones, McDonalds, sebuah simbol modernitas.

Fenomena itu kini menjadi salah satu bidang kajian yang cukup banyak menyita perhatian para akademisi yang menaruh minat pada studi politik dan perubahan sosial kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara. Hal itu antara lain disebabkan oleh munculnya asumsi yang menyatakan bahwa di masa mendatang kelas menengah dan kaum borjuasi di kawasan itu — yang kini semakin terdinamisasi oleh internasionalisasi kapital — diperkirakan menjadi semacam avant garde transformasi sosial. Secara teoritis kalangan ini — sebagai-

mana dikatakan oleh kedua editor buku ini — memang cukup sulit untuk didefinisikan secara ketat, terutama dalam soal penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan kelas menengah. Berbagai teori ilmu sosial — terutama dari perspektif Weberian dan Marxian beserta sejumlah varian yang mengikutinya — berupaya untuk mengidentifikasikan kalangan ini dengan preposisi yang beragam dan kontroversial.1

Namun secara umum kalangan ini diidentifikasi sebagai sebuah kelas yang terfragmentasi ke dalam berbagai sub-strata sosial. Kalangan ini juga tidak memiliki pandangan ideologi

yang koheren dan secara politis terbagi ke dalam sejumlah faksi dengan kepentingannya masing-masing. Tak terkecuali ciri-ciri seperti itu tampaknya juga merupakan gambaran umum kelas menengah — termasuk kalangan borjuasi — Asia Timur dan Asia Tenggara yang kini tampil sebagai the new rich.


1 Pandangan-pandangan teoritis yang mencoba mengungkap lebih dalam kelas menengah ternyata lebih bersifat polemik akademik ketimbang berisi kejelasan konseptual atas wacana tersebut. Namun, berbagai pandangan itu umumnya bertemua pada satu postulat bahwa kelas menengah biasanya dicirikan oleh derajat heterogenitas yang cukup tinggi, seperti latar belakang pendidikan, status sosial dan pekerjaan, serta income. Kelas menengah, terutama di Dunia Ketiga, juga ditandai oleh lemahnya organisasi internal mereka. Keragaman perspektif teori dan perdebatan akademik seputar konsep kelas menengah di Dunia Ketiga dengan baik digambarkan dalam Ian Roxborough, Teori-Teori Keterbelakangan (Jakarta: LP3ES, 1986), hal. 83-85.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan