Sebuah kulit bundar berisi udara, pada bulan Juni tahun ini mempersatukan perhatian hampir seluruh umat di muka bumi. Pandangan orang yang berbeda agama, politik, sosial, ekonomi, ras dan kebangsaan tertuju ke Argentina di Amerika Latin. Tigaratus empatpuluh delapan pemain dari 16 negara, bertarung di negeri itu untuk gengsi dan prestasi, dalam putaran final perebutan Piala Dunia sepakbola. Tetapi sembilan tahun yang silam, untuk urusan gengsi dan prestasi itu pula, Nestor Combin seorang pemain sepakbola warganegara Argentina, perlu “membayar” suatu “harga” yang sudah sangat terbiasa di negeri itu.
Combin yang bermain sebagai kiri-dalam MC Milan dari Italia, tahun 1969 datang ke Buenos Aires dengan klubnya, bertanding dengan Estudiantes. Di Milan sebelumnya, Estudiantes mereka gunduli 3-0. Tetapi di Buenos Aires, pada pertandingan yang dilaporkan bagaikan neraka itu, Combin dimaki sebagai pengkhianat yang menjijikkan, dihantam dan pingsan! Dengan kekalahan 1-2, akhirnya MC Milan harus “lari” dari lapangan dan bersembunyi. Namun, polisi yang berhasil menemukan tempat persembunyian itu menuntut agar Combin diserahkan. “Wajib militer” yang belum dijalankannya di Argentina dipersoalkan. Padahal sang olahragawan yang juga menjadi warganegara Perancis ini, sudah menunaikannya ketika sebagai pemain sepakbola dia berada di negeri itu. Dia diculik, dan 15 jam setelah itu, dengan campurtangan Jenderal Ongania yang waktu itu menjadi presiden, Combin dibebaskan. Dia ditemukan dengan kepala berlumuran darah.
Bagi orang Amerika Latin, sepakbola itu mirip agama yang dipagut oleh fanatisme. Untuk itulah Combin dimaki sebagai pengkhianat. Untuk itu juga dia dihajar serta diculik. Dan untuk itu pula darah mengucur dari kepalanya.
Sepakbola khususnya dan olahraga umumnya kini tidak lagi sesederhana yang dikenal rakyat Yunani dan Romawi di zaman lampau. Sepakbola juga bukan sepakbola yang pernah membuat orang Inggeris tergila-gila dan memuakkan Raja Edward II pada abad ketigabelas. Dan olahraga pun kini bukan sekedar rekreasi serta sarana kesehatan
bersama semboyan mens sana in corpore sano. Bagi orang Eropa Barat, olahraga adalah industri, bisnis dan dongkrak sosial yang ampuh. Untuk orang Eropa Timur dan komunis, olahraga menjadi sarana politik. Bagi orang Afrika yang berkulit hitam dan orang Asia, selain mengandung unsur nasionalisme, olahraga bisa berarti segala-galanya. Di dunia Timur umumnya, olahraga berpadu dengan mistik atau religius.
Ketika Combin digasak bangsanya sendiri, di dalam olahraga telah terlibat modal besar serta pikiran-pikiran cerdik dalam soal untung dan rugi. Orang mengoperasikan kapital raksasa untuk industri olahraga. Klub Barcelona dari Spanyol membayar sekitar 1 milyar rupiah untuk mendapatkan Johan Cruyff dari Ajax Amsterdam. Di Amerika orang bisa memperdagangkan kepalan dan nama Muhammad Ali, dalam jutaan dollar. Di circuit ada pembalap mati untuk sesuatu. Kemenangan Rudy Hartono di gelanggang All England sepuluh tahun yang lalu sempat memukau Sidang Umum MPRS untuk merenungkan arti kemenangan itu. Dan tahun 1975 ada orang meninggal seketika, karena jantungnya berhenti bekerja menyaksikan Rudy bertekuk lutut di depan Svend Pri di arena yang sama. Sesungguhnya olahraga telah merasuki segala-galanya, atau olahraga telah dirasuki segala-galanya. Di dalamnya ada uang, ada harga diri, harapan, kekecewaan, pertengkaran politik, dan ada perbedaan kelas seperti pemain golf dengan tukang payung yang senantiasa melindunginya dari panas matahari. Lantas untuk apa itu semua? Novelis terkenal Amerika, James A. Michener, dalam bukunya Sports in Amerika hendak menata kembali olahraga karena ekses yang ditimbulkannya sendiri. Bagi Michener, sport tak lebih dari olahraga yang telah menolongnya masuk universitas dengan gratis. Baginya juga, olahraga di masa muda adalah penyelamat nyawanya dari serangan jantung.
Setelah Combin berlumuran darah, agaknya olahraga memang perlu “pulang kembali” pada proporsinya. Dan masih mungkinkah?
Nomor ini dipersiapkan dengan bantuan Lukman Setiawan.