Tentang gelas yang separuh berisi anggur, ada dua kemungkinan pendapat yang dikemukakan. Pertama: gelas itu separuh kosong. Pendapat kedua mengatakan: ada anggur setengah gelas. Tidak ada yang salah dalam dua jenis pendapat ini. Keduanya sama benar. Perbedaannya terletak dalam cara menilik. Dari dua titik tilik yang berbeda, sesuatu akan tampil dalam dua wajah yang berbeda. Namun cara menilik tersebut menentukan sikap seseorang. Cara melihat pertama menunjukkan kemungkinan adanya sikap pesimis. Cara menilik kedua menggambarkan sikap optimis.
Optimisme dan pesimisme adalah dua cara menilik dan juga dua sikap. Dua-duanya diilhami oleh suatu wishful thinking atau keyakinan tertentu. Yang optimis berkeyakinan bahwa kalaupun ada planet lain yang menampung manusia, maka tak ada manusia sebaik yang ada di bumi ini. Sebaliknya bagi kaum pesimis semuanya kosong, kelabu, tanpa tujuan. Dua-duanya memakai kenyataan sejarah yang sama, peristiwa yang sama untuk membuktikan kebenarannya.
Ada yang mengatakan manusia sudah menjadi pandai, bahkan terlalu pandai. Akan tetapi kita tidak mampu mencapai pertumbuhan dan kematangan moral dan politik yang dapat mengarahkan dan mengendalikan kemampuan intelektual yang begitu besar. Inilah yang menjerumuskan kita mendekati jurang bencana. Dengan kata lain: kita pandai, atau bahkan terlalu pandai, akan tetapi pada dasarnya kita jahat; hampir seluruh tragedi bisa dikembalikan kepada pembauran antara kepandaian dan kejahatan yang menjadi akarnya. Namun ada juga yang berpendapat persis sebaliknya. Kita baik, bahkan terlalu baik; tetapi kita tolol. Seluruh tragedi sejarah bisa dikembalikan kepada dijelaskan oleh campuran atau kebaikan dan ketololan yang menjadi akarnya.
Adalah wishful thinking untuk mengatakan bahwa manusia pada dasarnya baik. Seruan ini pun paling disukai. Banyak yang tersinggung bila dikatakan sebaliknya. Namun bila ini dalilnya maka pengecualian jauh lebih besar dari hukumnya. Sehingga apakah artinya dalil itu kalau pemerkosaan martabat manusiawi jauh lebih nyata dari kebaikannya? Karena itu hampir tidak dapat terbayangkan adanya suatu masa di mana sejarah kekuasaan mampu menampilkan seorang atau sekelompok orang yang bijak, jujur dan adil. Semuanya hampir-hampir berarti utopia secara harfiah, suatu yang tidak mendapat tempatnya di dalam sejarah.
Perjuangan membela hak asasi manusia berlandaskan sikap optimisme. Namun kenyataan juga menunjukkan bahwa bencana bagi perjuangan hak asasi bukanlah karena kita menghadapi manusia yang jahat tetapi justeru yang baik dengan moral enthusiasm yang besar: bagaimana membikin dunia ini menjadi lebih baik. Perebutan kekuasaan, pertentangan antara golongan dalam masyarakat bukanlah untuk memamerkan kejahatan akan tetapi untuk memamerkan kebaikan, mempertontonkan moral enthusiasm. Hampir tidak ada rezim di Dunia Ketiga yang tidak mengatasnamakan keadilan dan kebenaran. Tetapi yang disaksikan adalah darah dan air mata. Pemusnahan satu bangsa di Indocina oleh setiap rezim yang berkuasa di sana berlangsung atas nama kebenaran dan keadilan dan martabat dasar manusiawi.
Bila Joseph Proudhon masih bernyawa maka tentang pemerintah di sana pemberang terbesar ini akan berkata sekali lagi: Diperintah berarti diawasi, diperiksa, dimata-matai, diarahkan, diberikan undang-undang, diatur, diadili, diindoktrinasi, dikotbahi, dikendalikan, dinilai, ditimbang, disensor, disuruh oleh mereka yang tidak punya hak, tidak punya pengetahuan, dan tidak punya kebajikan. Itulah pemerintah, itulah keadilannya, dan itulah moralitasnya.
Pandanglah gelas dari sudut hampanya, maka kita akan berkata: yang ada dalam sejarah adalah tragedi. Pandanglah gelas dari sudutnya yang berisi, maka kita akan berkata: yang ada dalam sejarah adalah tragedi. Bila demikian halnya, maka dalam seluruh sejarah, hampir selalu bisa diputar ulang permainan menegangkan antara optimisme dan pesimisme. Di sana disaksikan pertukaran tanpa henti antara kebaikan dan kejahatan, antara keberhasilan dan kegagalan mengangkat martabat manusia. Tetapi boleh jadi soalnya lebih dari sekedar berhasil atau gagal. Sisyphus dihukum dewa-dewa untuk menggulingkan batu ke puncak gunung. Setiap kali dia gagal. Dan setiap kali dia mulai lagi. Sebagai seorang optimis kita katakan Sisyphus menang. Dia menang bukan karena dia berhasil, tetapi karena dalam setiap kegagalannya dia memutuskan menantang suara dewa-dewa untuk menggulingkan batu sekali lagi ke puncak gunung. Itulah dinamikanya. Dan dinamika itu kita namakan perjuangan.