Penataan struktur organisasi kebun sudah saatnya semakin serius dikembangkan agar perkebunan sebagai sub sektor pembangunan mampu memberikan sumbangan yang lebih besar. Perlu diterapkan spesialisasi di tingkat manajer terendah sebagai awal menuju manajer kebun yang profesional. Karyawan, sebagai pelaksana terbawah dari sistem produksi, harus dilibatkan dalam arus komunikasi untuk mendapatkan mekanisme kerja yang efektif dan efisien.
BOM minyak membawa banyak pengaruh pada perkembangan ekonomi Indonesia. Pada tahun 1973/1974 pada saat harga minyak mentah naik empat kali lipat, peningkatan penerimaan pemerintah Indonesia mencapai hampir 100%. Rejeki keuntungan itu, bila didistribusikan menaikkan pendapatan sebesar 50% per kapita.1 Namun pengalaman kemudian mengajarkan bahwa ketergantungan kepada komoditas tunggal sungguh membahayakan. Tahun 1978, devaluasi yang dibarengi kekacauan di tubuh pertamina menyebabkan pemerintah mulai merangsang ekspor non migas. Hal itu berpengaruh terhadap sub sektor perkebunan, dengan kenaikan luas areal (1979-1983) dari 7,5 juta ha menjadi 8,9 juta ha.
* Artikel ini disampaikan pada Kongres Nasional II dan Seminar Ilmiah Himpunan Management Perkebunan Indonesia (HIMAPI) Medan 15-17 November 1988.
1 H.W. Arndt (ed.), Pembangunan dan Pemerataan, Indonesia di masa Orde Baru, Jakarta, LP3ES, 1986.