Prisma

Osa Maliki dan Tragedi PNI

Konflik Interen Pra dan Pasca 1965

Munculnya faksi-faksi di tubuh PNI mengakibatkan perpecahan yang nyaris melumpuhkan kepemimpinan partai. Osa Maliki tampil sebagai pimpinan tertinggi PNI tatkala pergolakan politik tahun 1965. Sebagai tokoh religius dan anti komunis, dia membawa partainya ke barisan Orde Baru. Namun tragedi PNI tidak bisa dihindari pada masa kemudian. Menyusul Kongres PNI di Bandung (1966) dan Semarang (1970) yang diintervensi kekuatan luar, pada Pemilu 1971 PNI gagal karena massa pemilihnya “menyeberang” ke Golkar.

Osa Maliki di lingkungan Partai Nasional Indonesia/Front Marhaenis (PNI/FM) adalah tokoh yang kurang menonjol. Sifatnya yang low profile dan sikapnya yang sederhana menyebabkan dia jarang sekali tampil dalam pemberitaan pers. Karir politiknya tergolong lambat. Ikut menjadi “bidan” lahirnya kembali PNI di Kediri, 1946, namun Osa Maliki baru menjabat pimpinan puncak partai pada 1966-1969.

Tampilnya Osa Maliki Wangsadinata — demikian nama lengkapnya — sebagai Ketua Umum PNI pun berlangsung dalam suasana politik yang kritis, baik di dalam tubuh PNI maupun di dalam tubuh bangsa Indonesia, menyusul kudeta G.30.S/PKI yang gagal pada tanggal 1 Oktober 1965. Pada periode kepemimpinannya PNI dicap sebagai pendukung Orde Lama dan pembela Bung Karno. Kekuatan Orde Baru mencurigai sikap politik PNI, sehingga Osa Maliki berada dalam posisi yang amat sulit. Dia harus bekerja keras untuk mempersatukan PNI yang terpecah belah, selain berupaya memasukkan PNI ke dalam barisan Orde Baru. Usaha ini menyita habis waktu dan tenaganya, sampai dia meninggal dunia.

Tulisan ini akan mengupas posisi Osa Maliki dalam konflik internal PNI; terpilihnya Osa Maliki dalam Kongres PNI di Bandung (1966); dan usaha Osa Maliki baik sebagai Ketua Umum PNI maupun Wakil Ketua MPRS membawa PNI dalam jajaran Orde Baru pada 1966-1968.

Tokoh Daerah Jawa Barat

Osa Maliki Wangsadinata1 lahir di Padalarang, Jawa Barat, 30 Desember 1907. Dia mengenyam pendidikan guru dan selanjutnya aktif mengajar di sekolah Taman Siswa Bandung. Sejak masih muda Osa Maliki tertarik pada kegiatan politik, di samping kegiatan keagamaan Islam, apalagi perjuangan itu ditujukan untuk menentang penjajahan Belanda. Sejak usia 17 tahun Osa Maliki menjadi anggota Serikat Islam Merah di Bandung. SI Merah adalah pengelompokan cabang-cabang SI yang dipimpin oleh tokoh-tokoh berhaluan komunis yang keluar dari SI, sebagai imbangan terhadap SI Putih. Pada bulan Maret 1923 Partai Komunis Indonesia (PKI) menyelenggarakan Kongres di Bandung dan memutuskan SI Merah diubah menjadi Sarekat Rakyat (SR). Organisasi massa itu selanjutnya menjadi Onderbouw PKI. Pada bulan November 1926 PKI melakukan pemberontakan bersenjata. Beberapa kota di Jawa dan Sumatera Barat. Pemberontakan November 1926 dapat dipatahkan. PKI, Sarekat Rakyat dan semua oganisasi onderbouw dilarang. Ribuan anggota PKI dan SR ditangkap, diadili dan selanjutnya dibuang di Digul, Irian. Osa Maliki termasuk anggota SR yang dihukum selama 4 tahun dan dibuang di Digul selama 8 tahun. Osa Maliki mendekam di Digul, suatu daerah terpencil yang penuh dengan nyamuk malaria, sampai tahun 1938. Sebagai seorang Digulis,2 Osa Maliki telah tercatat dalam daftar tokoh pergerakan nasional dan perintis kemerdekaan Indonesia.

Sepulangnya dari Digul Osa Maliki kembali ke profesinya sebagai guru sekolah. Sejak 1939 dia menjabat Kepala Perguruan Taman Siswa di Bandung. Di kota ini pula Osa Maliki mengenal Bung Karno dan tokoh-tokoh pergerakan lainnya yang mendirikan PNI (1927). Hubungan dekatnya dengan Bung Karno menyebabkan Osa Maliki senantiasa diajak ikut serta aktif dalam berbagai kegiatan politik. Atas permintaan Bung Karno maka Osa Maliki mundur dari Taman Siswa Bandung dan aktif di bagian pendidikan rakyat dan kebudayaan Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) di daerah Priangan sejak 1943. Kemudian dia ditarik Bung Karno ke Jakarta untuk memimpin bagian penerangan Djawa Hokokai pada tahun 1944. Berbagai informasi politik disebar luaskan kepada pejuang oleh instansi yang dipimpin Osa Maliki. Bung Karno sendiri senantiasa memperoleh laporan dari Osa Maliki.


1 Tentang biografi singkat Osa Maliki Wangsadinata lihat Ensiklopedi Umum (Yogyakarta : Penerbitan Yayasan Kanisius, 1973) halaman 916-917. Lihat juga J. Eliseo Rocamora, Nasionalisme Mencari Ideologi : Bangkit dan Runtuhnya PNI 1946-1965, (Jakarta : Pustaka Utama Grafiti, 1991) halaman 186, pada catatan kaki nomor 11.

2 Sebutan sebagai Digulis memang sempat merepotkan posisi Osa Maliki di dalam tubuh PNI. Selamat Ginting, wawancara 22 Oktober 1991, menyebutkan Osa Maliki dibesarkan dalam lingkungan kaum pemberontak komunis di Digul. Usep Ranawijaya, dalam wawancara 19 Oktober 1991 menilai Osa Maliki tahun 1920-an adalah seorang pemuda revolusioner. Keterlibatan dalam pemberontakan 1926 adalah refleksi kejuangannya. Sebagai Digulis, Osa Maliki tidak mesti harus dicap sebagai komunis. Lihat juga dialog serius antara Osa Maliki dan Sartono, 16 Maret 1966. Sartono mengingatkan Osa Maliki untuk tidak sembarang menuduh Surachman sebagai orang komunis, sebab Sartono pun bisa menuduh Osa Maliki sebagai komunis yang pernah dibuang Belanda ke Digul (Irian Barat). Namun Osa Maliki menjawab bahwa hal itu berlainan sama sekali. Komunis di masa kolonial tidak sama dengan komunis sekarang (1965), karena dulu Osa berjuang untuk kemerdekaan. Tentang pembelaan diri ini lihat Nazaruddin Syamsuddin, PNI dan Kepolitikannya (Jakarta : CV Rajawali 1984), halaman 92-93.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan