Apakah tujuan dari kegiatan ekonomi? Pertanyaan ini pernah menjadi masalah pokok dari ekonomi politik (ekonomi politik) yang menarik perhatian banyak penulis di masa lampau, lebih dari aspek-aspek lain dalam cabang ilmu pengetahuan itu. Kini persoalan itu hampir seluruhnya diabaikan, sementara para ahli ekonomi asyik menulis tentang masalah-masalah lain, seolah-olah jawaban atas persoalan di atas—sekalipun sebenarnya masih gelap seperti sediakala—bukan urusan mereka. Dr. Schumacher—salah seorang perintis gerakan Teknologi madya di Eropa—mengemukakan suatu tinjauan segar dan mendalam tentang persoalan ini, dengan suatu analisa yang luas dan jernih, hingga para pembaca akan lebih mengenal persoalan tersebut dan memahami hubungannya dengan masalah-masalah kita dewasa ini.—Redaksi.
***
“Peri-kehidupan yang layak” merupakan salah satu tuntutan dalam delapan jalan suci ajaran Budha. Dengan demikian, suatu pandangan ekonomi menurut ajaran Budha, memang jelas ada. Negara-negara yang bagian besar penduduknya memeluk agama Budha seringkali menyatakan bahwa mereka akan tetap setia kepada warisan kebudayaannya. Birma misalnya, menyatakan: “Birma yang baru tidak melihat adanya konflik antara nilai-nilai keagamaan dan kemajuan ekonomi. Kesejahteraan spirituil dan kekayaan materiil sesungguhnya tidak saling bertentangan; sebaliknya, keduanya justru saling menopang”1. Suatu pernyataan lain berbunyi demikian: “Kita dapat berhasil memadukan nilai-nilai keagamaan dan spirituil yang merupakan warisan kebudayaan kita dengan manfaat teknologi modern”2. Atau lagi: “Kita bangsa Birma memikul tugas suci untuk menyesuaikan cita-cita serta tindakan dengan kepercayaan dan iman kita. Dan ini akan terus kita lakukan”.3 Dengan sikap seperti itu, negara-negara tersebut merasa mampu menyusun suatu model rencana pembangunan menurut konsep ekonomi modern, dengan mengundang penasehat-penasehat ahli (ekonomi) dari negara-negara maju guna merumuskan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang mesti ditempuh dan menyusun pola umum pembangunan, seperti Rencana Pembangunan Lima Tahun atau Rencana-rencana pembangunan lainnya. Tak seorangpun pernah memikirkan bahwa cara hidup masyarakat Budha memerlukan sistem ekonomi Budha, persis seperti cara hidup modern yang materialistis melahirkan sistem ekonomi modern.
* Tulisan ini didasarkan pada suatu ceramah dengan judul “Buddhist Economics” di London, Agustus 1968, dan pertama kali dimuat dalam Resurgence, Journal of the Fourth World, Vol. II, No. 3, September/October 1968. Kemudian juga dalam E.F. Schumacher, Small is Beautiful, (New York: Harper & Row Publishers, Inc., 1973) hal. 50-58.
1 Pemerintah Persatuan Burma, Dewan Ekonomi dan Sosial, Burma Baru, 1954.
2 Ibid.
3 Ibid.