Prisma

Pandangan Hidup dan Citra-Diri

Agaknya dibutuhkan sedikit kehati-hatian bila kita ingin mengetahui sikap atau pandangan hidup suatu masyarakat. Pertama, karena “pandangan hidup” itu sendiri merupakan suatu konsep yang masih membutuhkan kejelasan dan kedua, karena pengertian masyarakat itu juga perlu diperjelas, apakah masyarakat yang seragam atau masyarakat majemuk. Yang pertama mungkin mudah dijelaskan dengan meredusirnya dari tingkat konsep yang abstrak ke tingkat yang lebih kongkrit. Tetapi tidaklah mudah untuk mendapatkan kejelasan yang bulat tentang suatu masyarakat, apalagi masyarakat yang majemuk. Kemajemukan itu bisa dilihat dari dimensi etnologis (keanekaragaman suku, bahasa, agama) tetapi lebih rumit lagi bila dilihat dari dimensi sosiologis yang menyangkut diferensiasi sosial atau realitas struktur sosial masyarakat tersebut. Dari sisi mana “pandangan hidup” itu hendak dijelaskan?

Pandangan hidup sering dikaitkan dengan sistem nilai yang ada pada diri seseorang baik sebagai warga masyarakat pendukung suatu kebudayaan tertentu, maupun sebagai individu dengan kepribadian tertentu. Dari sisi ini, sering pula dikatakan bahwa pandangan hidup mencerminkan citra-diri seseorang karena pandangan hidup itu juga mencerminkan cita-cita atau aspirasinya. Antisipasi keberhasilan atau kegagalan meraih aspirasi itu sekaligus mewujudkan citra-diri dilihat dari norma-norma masyarakat. Dengan demikian tahap aspirasi seseorang merupakan bagian penting serta integral pada citra-dirinya, tidak saja menyangkut dirinya sebagaimana adanya, tetapi dirinya menurut apa yang diinginkannya.

Tetapi sekali lagi dibutuhkan kehati-hatian karena pandangan hidup seseorang atau suatu masyarakat diketahui melalui apa yang ia atau mereka katakan. Dan karena pandangan hidup selalu diwarnai oleh apa yang dianggap ideal dalam pola berpikir suatu masyarakat pada suatu kurun waktu tertentu, maka terkadang sulit untuk membedakan apakah yang dikatakan itu sungguh-sungguh yang ingin dikatakan olehnya ataukah hanya idealisasi belaka mengikuti kebiasaan berpikir yang sedang berlangsung dalam masyarakat tersebut. Seorang Cina yang sama akan memberikan jawaban yang berbeda tentang pandangan hidupnya jika ditanyakan pada waktu Mao Zedong sedang mengadakan eksperimen besar dengan revolusi kebudayaannya dan jika ditanyakan sekarang ketika Deng Xiaoping sedang mengarahkan masyarakat Cina menuju ke kehidupan pra-kapitalis.

Persoalannya lalu menjadi lain, bahwa pandangan hidup itu tidak selamanya bersifat prinsipil atau hakiki, melainkan elastis tergantung situasi dan kondisi. Dengan demikian, apa yang dikatakan seseorang atau suatu masyarakat tentang pandangan hidupnya, tidak selamanya mencerminkan “kesadaran yang dinyatakan” (kesadaran yang dinyatakan). Sebaliknya, terutama dalam masyarakat yang sedang digenggam proses birokratisasi dalam seluruh aspek kehidupan, apa yang sesungguhnya ingin dikatakan tak jadi dikatakan atau mencerminkan “kesadaran yang tak dinyatakan” (kesadaran yang tidak diekspresikan), sebagai wujud ketak-berdayaan menghadapi genggaman tersebut.

Dan akan lebih runyam lagi—dan ini paling mungkin terjadi—bahwa dalam situasi ketak-berdayaan itu, apa yang dikatakan tentang pandangan hidupnya justru mencerminkan “ketak-sadaran yang dinyatakan“. Kalau begitu keadaannya, gambaran seperti apa yang akan kita peroleh tentang citra-diri manusia dalam masyarakat seperti itu?

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan