Prisma

Panggung-panggung Mitologi dalam Hegemoni Negara

Gerakan Mahasiswa di Bawah Orde Baru*

Gerakan mahasiswa di masa Orde Baru belum pernah bisa keluar dari mitos yang membentuk kesadaran subyektif dan identitas sosial mereka. Persepsi tentang peran sosial ini merupakan pendorong kemunculan gagasan aksi-aksi protes mereka di tahun 70-an maupun akhir 80-an. Tetapi melalui hegemoninya, negara juga menyediakan panggung yang diperlukan bagi terciptanya mitos itu, sehingga mahasiswa tidak mampu mengidentifikasiposisi sosialnya secara struktural.

PENDAPAT dominan selama ini memandang bahwa mahasiswa merupakan kelompok strategis yang berperan penting dalam perubahan sosial-politik. Bahkan sudah menjadi truisme bahwa gerakan protes mahasiswa, terutama di Dunia Ketiga, memainkan peranan sangat aktif dan berposisi sentral dalam percaturan politik. Tak ada satu pun penguasa di negeri-negeri—yang dianggap berkembang ini—yang bisa mengabaikan posisi sosial dan pentingnya representasi politik serta dampak aspirasi dari golongan muda berpendidikan tinggi ini. Para ilmuwan sosial pun sibuk mengkaji dan meneliti fungsi mereka dalam sistem sosial-politik, terutama setelah menaiknya gelombang aksi protes mahasiswa di akhir dekade 60-an hingga awal 70-an, baik di negeri-negeri maupun maju terbelakang, termasuk di Indonesia.

Masih bisa diperdebatkan apakah mahasiswa berperan dalam menumbangkan sebuah rezim dan melicinkan jalan bagi penguasa yang baru untuk naik tahta? Jika memang berperan, seberapa besar andil mereka, baik dalam kemelut politik pada saat tertentu maupun peran sosialnya dalam konteks sejarah yang lebih luas? Rasanya rentang dua dekade kisah tentang gerakan mahasiswa di negeri ini lebih dari cukup untuk memetakan posisi lalu menilai peran golongan terpelajar ini. Tulisan ini sendiri hanyalah sebuah refleksi singkat atas posisi dan peran gerakan (protes) mahasiswa sepanjang Orde Baru, rust en orde yang diakui ditegakkan melalui sumbangan demonstrasi mahasiswa dalam menumpas komunisme. Refleksi ini dimungkinkan karena saya meyakini bahwa sejarah merupakan gerak dialektis antara subyektivitas pelaku dan struktur sosial-ekonomi yang mendasarinya. Diterjemahkan dalam konteks pergerakan mahasiswa, tulisan ini akan berangkat dengan melihat bagaimana terjadinya pembentukan dan perbenturan antara subyektivitas peran mahasiswa dengan kondisi obyektif mereka sebagai bagian dari universitas, institusi penting yang mereproduksikan kapitalisme.


* Terima kasih kepada kawan karib saya, seorang aktivis mahasiswa yang kini masih mendekam di penjara, Bandung. Karena kecerdasan, kejujuran, dan keberaniannya dia menempa pengalamannya dan tulus berkorban demi suatu cita-cita yang tersirat dalam tulisan ini. Melalui otokritik dan refleksinya terhadap gerakan mahasiswa jugalah dia banyak mengilhami tulisan ini. Terima kasih kepada Vedi R. Hadiz, Rocky Gerung, Oskar, Nug Katjasungkana, Jhony Junaedi dan Levidus atas komentar-komentarnya pada draft awal tulisan ini. Terima kasih secara khusus kepada Harry Wibowo, karena saran-sarannya yang ketat serta kritik-kritiknya yang tajam memungkinkan tulisan ini hadir secara sangat ringkas seperti sekarang; juga Amrih Widodo yang naskah “Tayub”nya mewarnai nuansa tulisan ini. Namun semua isi merupakan tanggungjawab saya sendiri.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan