Banyak perubahan yang mempengaruhi situasi pasaran beras di Indonesia. Leon A. Mears dan Suroso Natakusuma menggambarkan perubahan-perubahan dalam pemilikan dan cara penggilingan padi maupun dalam struktur pasaran dan saluran-saluran distribusi. Dalam hal penggilingan padi, dikemukakan bahwa telah terjadi pergeseran kerja dari unit-unit penggilingan besar kepada yang lebih kecil, yang juga mengambil alih sebagian besar pemasaran di pedesaan. Bagaimana implikasi dari perubahan-perubahan ini?
Sejak akhir tahun 1950-an, ketika panorama pasaran beras di Indonesia dipelajari secara luas belakangan ini,1 terutama sesudah tahun 1965, banyak perubahan telah terjadi, yang berpengaruh terhadap perdagangan dan arus padi serta beras dari sektor pertanian dan impor sampai kepada konsumen. Perubahan-perubahan ini serta antar-hubungannya digambarkan dan dibahas di halaman-halaman berikut.
Di bidang Pertanian
Jenis-jenis beras yang sangat responsif terhadap pupuk telah disesuaikan dengan kondisi Indonesia, baik yang berasal dari persediaan benih domestik seperti dalam Pelita I dan II, maupun dari jenis-jenis yang diperkembangkan dalam Lembaga Penelitian Beras di Filipina. Sebagai hasilnya, produksi telah meningkat hampir 4 persen setahun sejak awal Repelita I tahun 1968/69. Kenaikan produksi beras giling dari/kurang 12 juta ton di tahun 1968, menjadi sekitar 20 juta ton di tahun 1980, membawa masalah-masalah baru serta menambah berat tekanan pada masalah-masalah lama.2 Butir-butir padi dari banyak jenis baru sangat mudah terlepas dan berserakan dari tangkainya. Untuk memperkecil kerugian, penumbukannya tidak dapat ditunda sampai gabah yang masih bertangkai itu diangkut lebih dulu ke lumbung atau ke sebuah penggilingan, tetapi harus dikerjakan di ladang. Demikianlah maka, kalau dalam tahun 1950-an pemasaran di pulau Jawa dan Sulawesi dilakukan atas gabah bertangkai, pemasaran dalam tahun 1970-an cenderung mengikuti gaya Sumatera, di mana pemasaran padi girik (tumbuk) telah dilaksanakan sejak puluhan tahun. Onggokan-onggokan padi gabah bertangkai yang sedang dijemur, yang merupakan pemandangan biasa dalam tahun 1950-an, jarang nampak lagi dalam tahun 1979. Masalah pengeringan efektif dari pada jenis-jenis padi yang lekas masak, yang lazim diketam sebelum musim hujan berlalu, menimbulkan kesulitan-kesulitan karena kekurangan umum akan fasilitas pengeringan mekanis.
* Artikel ini diterjemahkan oleh Ny. Dian Bambang Supeno dari naskah asli berjudul The Changing Rice Marketing Scene in Indonesia.
1 Leon A. Mears, Pasaran Beras di Republik Indonesia, (Jakarta: Lembaga Penelitian Ekonomi dan Sosial Universitas Indonesia dan P.T. Pembangunan, 1959). Suatu penerbitan yang lebih mutakhir, meliputi periode sampai tahun 1970, tetapi dipusatkan pada kegiatan Pemerintah untuk menstabilkan situasi beras di Indonesia, telah ditulis oleh Sidik Moelyono (untuk BULOG), Seperempat Abad Bergulat dengan Butir-butir Beras, (Jakarta: BULOG, 1970).
2 Perkiraan produksi 1980 ini adalah sebagaimana yang dikemukakan dalam Pidato Kenegaraan Presiden Soeharto di depan Dewan Perwakilan Rakyat, 16 Agustus 1980.