Prisma

Paradigma Baru bagi Pendidikan Rakyat

Pendidikan sampai sekarang senantiasa dianggap sebagai proses meresapi dan menghayati nilai-nilai suatu masyarakat atau disebut proses sosialisasi. J.B. Mangunwijaya menganggap sosialisasi hanyalah sebagian kecil dari proses pendidikan dan tidak identik dengannya. Dan lebih jauh penulis mempersoalkan nilai-nilai manakah yang harus disosialisasikan itu? Melihat kenyataan situasi pendidikan kita maka selayaknya pendidikan dilihat di dalam suatu landasan dan segugusan cara bertanya yang sama sekali baru. Bilamana hal tersebut tidak dapat kita capai sekarang, maka kita hanya melanjutkan paradigma pendidikan kolonial dalam suatu alam merdeka.

Pendahuluan

Hal pendidikan di zaman dulu tak pernah menjadi permasalahan. Setiap anak dan orang muda dengan sendirinya menempatkan dan menundukkan dirinya terhadap adat dan peraturan yang diletakkan padanya oleh para orangtua masyarakatnya. Baru sesudah dewasa dan punya isteri kadang-kadang satu dua orang yang merasa tidak cocok dengan sukunya, meninggalkan sukunya lalu sendirian, hanya dengan isteri-isterinya, berdikati hidup mandiri, seperti yang sering terjadi di kalangan pedalaman Irian Jaya atau Kalimantan. Tetapi tidak ada anak yang berdikari atau tidak menundukkan diri pada tata adat dan sistem pendidikan sukunya, atau dalam zaman moderen, pada sistem pendidikan negaranya selaku representan masyarakatnya. Sejak tahun 1945 tampaklah setelanjang-telanjangnya, juga bagi generasi tua, betapa bangkrut sikap dan tindak generasi yang pernah mengklaim diri selaku pihak yang berhak mendidik serta mengajar anak-anak mereka. Maka untuk pertama kali dalam rangkaian sejarah bangsa manusia sekian ratusribu tahun lebih, dilontarkan pertanyaan sampai sejauh mana orang berhak mendidik dan mengajar orang lain. Siapa dan orang macam apa pantas disebut guru dan siapa sebetulnya murid? Dan pertanyaan yang menggoncangkan sejarah itu menjalar terus sampai ke pelosok paling udik. Pertama, karena setiap orang muda yang sehat nalar budinya sudah tidak mau lagi menjadi anak-didik suatu sistem yang akhirnya akan menyeret mereka kembali menjadi umpan perang seperti yang pernah terjadi faktual sekian ratus ribu tahun. Khususnya itu sangat terasa pada masa perang Vietnam yang lebih diperparahkan lagi oleh penelanjangan para pejabat tertinggi negara yang paling berdemokrasi Barat, yakni pada peristiwa Watergate.

Demikianlah tidak hanya generasi muda, tetapi seluruh dunia beradab bertanya kembali secara lebih mendalam dan sering lebih sengit kepada ilmu-ilmu negara, ilmu-ilmu masyarakat dan manusia: “Apakah sebenarnya raison d’être negara?” Dalam dunia ilmu yang lain-lain pula dan dalam alam pemikiran serta penghayatan manusia tentang yang disebut “realita“, sejak pergantian abad terakhir, memang telah timbul pula revolusi-revolusi besar. Diawali oleh para ilmuwan fisika dn matematika, cara orang memandang hal-hal yang disebut realita, semesta, bahkan psike sebelah dalam manusia itu sendiri, mengalami perubahan luar biasa. Banyak perkara yang dulu dianggap sudah kokoh dan tak seorang pun pernah memimpikannya dapat goyah, tiba-tiba roboh atau dipertanyakan kembali. Suatu gugusan sistem pemikiran (paradigma) yang begitu kokoh seperti sistem matematika Euclides misalnya tiba-tiba dipertanyakan kembali secara dahsyat. Sekian abad sebelumnya, paradigma sistem matahari-planet-plenet Ptolemeus yang sudah dianggap benar selama berabad-abad, juga sudah tergoncang dahsyat oleh paradigma baru sistem Copernicus. Tidak pernah orang pada awal abad ke-20 ini yang mengira, bahwa pengertian waktu ternyata tidaklah mutlak. Sejauh itu manusia beradab lebih kritis lagi. Memang tradisi manusia kritis sudah berjalan lama, apalagi sesudah Descartes, (filsuf dan terutama matematikus ulung) menyarankan yang disebutnya “keragu-raguan umum metodis” yang adalah “keragu-raguan yang dipilih secara sengaja dan merdeka selaku sarana untuk meraih kebenaran“.1 Akan tetapi itu baru keragu-raguan rasional. Sejak Hiroshima 1945, keragu-raguan menjadi eksistensial, yang menyentuh soal hidup atau mati, bahagia atau sengsara. Dan dalam penentuan hidup-mati, bahagia-sengsara itulah sektor pendidikan-pengajaran memegang peranan kunci. Apalagi dengan datangnya sosiologi yang merasa terpanggil untuk mengabdi kepada kearifan kritis: “things are not what they seem” dalam masyarakat. Dan mengikuti para ahli fisika, Durkheim terjun selaku perintis sosiologi yang ingin meneliti fakta “comme des choses” (apa adanya). Bersama Durkheim, Max Weber melawan August Comte yang menghendaki agar penelitian ilmiah dilakukan dengan maksud memperoleh landasan moral yang cukup kokoh untuk memperbaiki masyarakat. “Ilmu empiris tidak mampu mengajar siapa pun tentang apa yang harus ia lakukan, tetapi hanya: apa yang dapat ia kerjakan, dan dalam keadaan tertentu, apa yang mungkin ia kehendaki“.2 Dengan kata lain (seperti sarjana-sarjana pada bidang lain juga), ilmu yang obyektif murni, yang netral atau yang disebut value free.


1 Descartes R, Ire Meditation ed. Adam Tannercy t. IX.

2 Goudsblom. J., M: Weber, dalam Mens en Maatschappij, 1973, 1 hal. 9.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan