Apa yang dewasa ini sangat menjadi pemikiran bagi bagian terbesar kaum elite dalam negara-negara yang maju maupun negara-negara dari Dunia Ketiga (negara-negara sedang berkembang – Red.) yang mengalami masalah urbanisasi — dengan urbanisasi dimaksudkan proses perpindahan penduduk dari desa ke daerah kota — adalah terutama hal-hal yang kurang menyenangkan, atau untuk berbicara lebih tegas, segi-segi yang lebih menyeramkan dari pada proses itu.
Proses urbanisasi itu pada negara-negara yang maju (negara-negara industri) sedikit banyak telah dapat ditampung; dengan lain perkataan, bagian terbesar daripada penduduk negeri tinggal di daerah-daerah perkotaan yang biasanya dirumuskan sebagai kota dengan 100.000 atau lebih penduduk. Mengenai negara-negara dari Dunia Ketiga, umumnya dianggap bahwa pembangunan ekonomi dan industrialisasinya akan diiringi dengan proses yang kurang lebih sama.
Akan tetapi apa yang biasanya disebut “krisis perkotaan”, yang serentak dialami oleh negara-negara industri maupun negara-negara yang kurang berkembang, jelas tidak ada hubungannya dengan tingkat urbanisasi yang tinggi atau pembangunan ekonomi, oleh karena segi-segi yang paling keras daripada krisis perkotaan itu terlihat dalam kota-kota metropolitan saja dari Dunia Ketiga yang kurang berkembang.
* Naskah asli artikel ini ditulis khusus untuk PRISMA dalam bahasa Inggris dengan judul “Paradoxes of Urbanization in the Third World“, dan diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Drs. Hazil.