Prisma

Pasang Surut Musik Rock di Indonesia

BELAKANGAN ini musik rock Indonesia mulai mantap kedudukannya dalam dunia musik populer Indonesia. Dalam berbagai acara musik yang ditayangkan televisi negara maupun swasta sering kita saksikan beberapa artis lokal menyanyikan lagu rock lokal. Di bidang rekaman pun, kaset rock lokal mulai menandingi jumlah penjualan jenis lain dalam musik populer Indonesia. Di bulan Maret 1991, menurut majalah Vista, dari 10 album terlaris musik populer Indonesia, empat adalah album rock, dengan Sepuluh Finalis Festival Rock V menduduki tempat teratas.1 Album Power Metal, Power One yang merupakan album pertama mereka terjual lebih dari 200.000 kaset. Sedang album pertama Slank, Suit-suit . . . Dia . . . Dia . . (Gadis Seksi) (1991) terjual mendekati 300.000 kaset.2 Di tahun 1989, album ketiga God Bless, Semut Hitam yang dirilis pada tahun 1989 laku sebanyak lebih dari 400.000 kaset. Ikang Fauzy mendapat BASF Award untuk kategori “Best Selling” pop rock, kasetnya menduduki runner up II penjualan album 1987.3

Di pelbagai panggung musik juga sangat terlihat kehadiran musik rock. Baik panggung di Sekolah Menengah Atas, di kampus-kampus perguruan tinggi, maupun panggung-panggung komersial. Group musik besar seperti God Bless beberapa kali mengadakan tur yang mencakup beberapa kota. Demikian pula kelompok Swami dan Kantata Taqwa, yang dimotori oleh Iwan Fals dan Sawung Jabo dengan cukong pengusaha Setiawan Djody.

Di panggung musik rock, biasanya band yang tampil memainkan lagu berirama heavy metal dari band-band Eropa/Amerika yang sedang populer, seperti Metallica, Slayer, Sepultura, Skid Row. Populernya lagu-lagu heavy metal dari berbagai kelompok terkemuka di Barat sejak 1980-an ini diiringi dengan populernya gaya penampilan mereka. Di banyak tempat di berbagai kota besar, kita banyak menjumpai remaja yang berpenampilan seperti musisi rock, berambut panjang, mengenakan t-shirt hitam bergambar aneh bertulisan nama grup heavy metal. Di Jakarta, radio Bahama FM sejak 1987 mengudarakan acara tetap tiap Minggu (13.00-15.00) yang memutar jenis lagu trashmetal, salah satu sub-kategori dalam musik rock. Para pendengarnya juga diberi info terbaru tentang perkembangan jenis musik ini dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Sumbernya adalah berbagai majalah luar negeri. Menurut pengelolanya, banyak pendengar yang menyukai acara ini, yang terlihat dari telepon dan surat yang masuk. Radio Mustang yang juga mengudara di gelombang FM, mengudarakan acara khusus musik rock tiap Rabu malam, yang sekarang ini juga didominasi oleh jenis musik ini. Dalam peringatan ulang tahunnya, radio itu mengadakan pertunjukan musik trashmetal. Begitu banyaknya remaja yang ingin menonton, sampai-sampai karcis pertunjukan ini dijual lima kali lipat dari harga aslinya.4

Majalah-majalah “hiburan” banyak memuat musik ini atau pun pelakunya. Majalah remaja Hai menampilkan tulisan tentang musik rock dalam hampir setiap edisinya. Majalah ini menampilkan tulisan musik rock yang lebih lengkap dan aktual dibanding majalah sejenis. Lewat Hai, remaja pembaca media massa yang menggemari musik rock dapat mengetahui perkembangan musik ini. Mereka jadi mengenal grup rock Bon Jovi, Van Halen, Guns N’ Roses, Iron Maiden, sampai grup sampah macam Anthrax dan Megadeth. Sementara majalah gadis remaja: Gadis, yang selama ini lebih banyak memuat berita musisi pop, ikut memuat berita kelompok musik rock Slank.5 Bahkan majalah yang ditujukan untuk pembaca yang lebih “dewasa” macam Jakarta-Jakarta, mengeluarkan edisi yang membahas musik rock.6

Tulisan ini sekedar mendeskripsikan kiprah musik rock di Indonesia sejak tahun 60-an hingga sekarang. Tidak seperti jenis musik lainnya, rock telah menimbulkan kontroversi dalam budaya Indonesia. Namun dengan semakin intensifnya industri rekaman dan show business serta parawisata, musik rock juga mendapat ruang gerak yang lebih leluasa di mana ia juga merupakan presentasi budaya kaum muda.

Masa Awal: “Ngak-ngik-ngok Kontra-revolusioner”

Musik populer di Indonesia mulai berkembang sejak 1950-an. Saat itu festival musik, pergeralan musik, dan misi kesenian (yang mencakup musik) mulai banyak diadakan. Di tahun 1951 untuk pertama kali Radio Republik Indonesia (RRI) mengadakan pemilihan “Bintang Radio.” Di tahun 1959 berdiri Persatuan Warga Musik Indonesia (PWMI), suatu organisasi yang bertujuan menyatukan semua tenaga musik yang masih berpencaran.7 Menjelang tahun 1960-an musik pop berkembang di Indonesia. Di awal 1940-an musik yang populer adalah kroncong, gambus, dan musik Hawaiian.


1 Vista, No. 112, 1 April 1991, hal. 74.

2 Gadis, No. 24, 13-23 September 1991. Menurut Kompas, titik impas (break even point) untuk kaset Indonesia adalah 100.000 (Kompas, 21 Februari 1988). Sebuah kaset yang terjual 300.000 memperoleh penghargaan cakram emas (Jakarta-Jakarta, 4 September 1988).

3 Gadis, No. 7, 10-21 Maret 1988.

4 Hai, No. 27, Th XV, 2-8 Juli 1991.

5 Gadis, No. 24, 13-23 September 1991.

6 Jakarta-Jakarta, No. 276, 12-18 Oktober 1991 memuat tiga tulisan panjang, yang pertama tentang Nicky Astria, lainnya tentang Ian Antono (ex-God Bless), serta grup heavymetal AS Guns N’Roses. n^7n^ Sylvia Yulita, “Seni Musik Sebagai Alat Politik Pada Masa Demokrasi Terpimpin (1959-1965),” Skripsi Sarjana pada Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 1989, hal. 45-46.

7 Sylvia Yulita, “Seni Musik Sebagai Alat Politik Pada Masa Demokrasi Terpimpin (1959-1965),” Skripsi Sarjana pada Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 1989, hal. 45-46.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan