Prisma

Pasar Pendidikan

Syahdan pada tanggal 22 Juni 1927 berkatalah seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat zaman Hindia Belanda: Meskipun seorang awam di bidang pendidikan, saya memberanikan diri mengambil bagian di dalam pertukaran pikiran atas dasar keyakinan mendalam bahwa dalam analisa terakhir pendidikan hanyalah alat menuju tujuan—dan bahwa dia tidak akan bergerak lebih dari itu untuk menjadi tujuan dalam dirinya sendiri. Betapapun jua kepentingan dan kebutuhan masyarakat adalah yang terutama dan tentang itu saya ingin mengatakan sepatah dua kata sekarang. Masyarakat Hindia Belanda, yang kini diusahakan untuk dibangun cepat oleh pemerintah melalui pendidikan, memiliki dua ciri penting. Pertama, masyarakat ini … adalah suatu masyarakat yang memiliki pertentangan-pertentangan tajam; ia adalah konglomerasi dari suatu sistem equilibrium yang labil. Kedua, negeri ini miskin, … Bilamana kita meneliti sistem pendidikan kita, kita lihat adanya kekurangan justru pada dua masalah pokok ini. Apakah pendidikan meningkatkan ketidakpuasan dan mempertajam pertentangan? Apakah pendidikan turut mempertajam kontras sosio-ekonomis sedemikian rupa sehingga melonggarkan sendi-sendi persatuan? Jangan salah paham terhadap saya … Saya yakin bahwa pendidikan membawa pembangunan, meningkatkan harkat pribadi, dan nasionalisme. Saya sadar akan hal ini dan saya hargai. Saya sadar bahwa justeru karena ini akan datang perjuangan … yang membawa kemajuan. Tanpa kesadaran akan hal ini, saya tidak akan berdiri di depan saudara-saudara dan berjuang.

Pada hemat saya pendidikan bukanlah jimat penyembuh segala untuk memperbaiki nasib bangsa ini. Intelektualisme telah berakar kuat di sini. Saya tidak menentang perkembangan intelektual pada setiap orang, akan tetapi bilamana kita menengok negeri-negeri di mana pendidikan pada hakekatnya lebih praktis, dan terbatas pada apa yang dibutuhkan masyarakat, kita lihat bahwa hasil pendidikan jauh lebih baik dari sini, di mana pendidikan masih semata-mata diarahkan untuk menimbun pengetahuan sebanyak-banyaknya.

Dan kita pun harus bertanya kepada diri kita sendiri apakah kita berada di jalan yang benar dalam pendidikan kita sejauh menyangkut kebutuhan ekonomi? Pendidikan baru berguna bagi ekonomi bilamana dia mampu memperkuat kehidupan bisnis dengan menghasilkan tenaga-tenaga pribumi yang memegang setiap jenis pekerjaan di dalam industri, perdagangan, dan perkapalan atas peri yang sama seperti orang Eropa. Namun, di negeri ini semuanya hanya menjadi cita-cita belaka … karena kita berada di jalan yang salah, dari mana harus berbalik secepat mungkin. Karena itu, harus kita hubungkan pendidikan dengan kehidupan praktis dan menyesuaikannya dengan kebutuhan ekonomi negeri ini. (Chr. L.M. Penders, (ed.) Indonesia, selected Documents on Colonialism and Nationalism).

Anggota Belanda dalam Volksraad bernama J. Meyer Ranneft yang mengucapkan pidato di atas bukanlah seorang yang bermaksud buruk. Dalam zamannya dia sangat kritis terhadap kebijaksanaan pendidikan kolonial bangsanya sendiri. Pada waktu itu sudah terasa dilemma pendidikan yang dihadapi. Pendidikan dianggap telah menempuh jalan yang salah. Pendidikan dikatakan hanya menyuburkan intelektualisme benih yang membangkitkan nasionalisme dengan segala jenis aksinya. Sistem pendidikan yang diingini adalah sistem pendidikan yang lebih bisa dihubungkan dengan kehidupan praktis dan disesuaikan dengan kebutuhan ekonomi negeri ini. Anggota dewan perwakilan di atas tidak ragu-ragu mengatakan bahwa sistem pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan ekonomi adalah sistem yang memperkuat kehidupan bisnis, sebagai bengkel latihan bagi tenaga kerja pribumi yang bisa langsung dimasukkan ke dalam sistem industri Belanda. Namun yang tidak dipersoalkan pada masa itu: sesuai dengan kebutuhan ekonomi siapa?

Perdebatan yang hampir sama berlangsung lagi 53 tahun setelah pidato itu diucapkan dan 35 tahun setelah kemerdekaan. Ke mana sistem pendidikan seharusnya diarahkan? Pokok-pokok pikiran yang dimaksudkan untuk mengusahakan pembaharuan pendidikan nasional juga tidak ragu-ragu mengatakan bahwa sistem pendidikan harus bersifat fungsional terhadap perkembangan masyarakat. Sistem yang fungsional ini semakin lebih jelas dirumuskan ketika membicarakan sistem pendidikan kejuruan yang tidak hanya sekedar menghasilkan angkatan kerja yang trainable, melainkan juga yang marketable yaitu tenaga yang bisa dijual dalam pasaran kerja. Namun di sini juga tidak dipersoalkan tenaga tersebut bisa dijual kepada siapa?

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan