Lahir, hidup lantas mati bukanlah monopoli manusia. Semua yang bernyawa mengalami kelahiran, hidup dan kematian. Tetapi yang menjadi monopoli manusia adalah kemampuan memantulkannya kembali di dalam karya-karyanya. Di dalam karyanya manusia mengukir kembali semua pengalaman, emosi yang melilit hidup dan mati.
Di dalam begitu banyak karya manusiawi, mungkin kesenian, khususnya kesusastraan memegang peranan paling utama. Ada banyak alasan mengapa dikatakan begitu. Tetapi sebenarnya hanya satu alasan terpenting di dasarnya yaitu di sana kehidupan itu diputar ulang di dalam imajinasi. Di sana kematian bermain sekali lagi di dalam imajinasi. Dan di sana hidup dan mati tidak bermusuhan akan tetapi menjalin dua dimensi dari satu hal yaitu kemanusiaan. Kematian memperkaya kehidupan. Hidup yang kaya membuat kematian menjadi lebih berarti. Orang bermain dengan imajinasi. Karena itu tidak aneh bahwa manusia senantiasa mencari-cari kesempatan untuk mengulangi: tertawa, menangis, marah, dendam, ngeri dan takut. Dengan alasan itu dia menulis kesusastraan. Dengan alasan itu pula dia membaca kesusastraan. Orang merasa tak pernah sungguh-sungguh hidup bilamana kematian imajinasi. Masyarakat pun tidak pernah pernah bila-sungguh hidup sungguh-sungguh imajinasi merana. Sama halnya kalau sekiranya kebebasan untuk berimajinasi sudah mati atau dimatikan. Hancurnya imajinasi menjadi rintangan utama bagi existing, demikian Hannah Arendt.
Dalam semuanya seniman, sastrawan, pengarang memegang andil utama. Atau sekurang-kurangnya dianggap harus memainkan peranan utama. (Ataukah kepada mereka diberikan harapan terlalu tinggi dan diberikan peranan yang terlalu besar?) Mungkin karena itu pulalah masyarakat menuntut terlalu banyak dari para seniman, pengarang, penyair, dan lain-lain. Dari sana diharapkan datangnya “fatwa”. Dari sana dinanti datangnya “kebenaran”.
Kalau itu menjadi harapan, maka bukan semuanya tidak masuk akal. Dalam sejarah ada saat di mana sulit dibedakan antara kesenian dan agama. Upacara kesenian adalah upacara keagamaan. Buku-buku sastra adalah buku pegangan keagamaan. Sebaliknya buku suci hampir setiap agama adalah karya sastra yang tak ada taranya.
Demikian sastra dan pujangga memiliki tempat khusus. Dan dia semakin penting bagi setiap manusia dan masyarakatnya, karena di dalam sastra orang berkaca tentang diri dan masyarakatnya.
Tersebutlah seorang yang bernama Bertolt Brecht. Dia tidak tahan hidup di tanah airnya di bawah Hitler. Dia berusaha melarikan diri dari Jerman ke Rusia dan akhirnya ke Amerika Serikat. Dia berangkat ke Hollywood, yang dalam kata-katanya: bergabung dengan penjual di pasar di mana kebohongan dibeli, untuk bergabung di dalam kumpulan tukang jual di pasar, di mana dusta dibeli. Ke mana pun dia pergi senantiasa orang berkata: spell your name, sebutkan namamu! Dan Brecht berseru dalam sanjaknya: Ach, dieser ‘Name’ gehörte zu den Grossen, Ah . . . nama ini milik orang besar! Brecht tidak mau mulai lagi dari nol. Di Jerman dia dramawan besar, penyair utama, Di sana tidak ada yang berkata padanya: spell your name. Lantas dia tinggalkan Amerika.
Sudah lama kita mendengar keluhan bahwa pengarang kita terlalu banyak bergelimang dunia khayal, menyilaukan pembaca dengan suatu dunia yang tidak realistis, dalam novel, dalam filem dan seterusnya. Kesenian adalah pasar yang menjual kemewahan dan kemewahan itu mimpi yang tak pernah terjangkau. Namun kesulitan terletak di sana. Apakah benar itu buktinya bahwa dunia yang disampaikan sastrawan, penulis, pengarang Indonesia tidak realistis? Kalau kesenian memantulkan hidup, maka pengarang mungkin telah memantulkan hidup yang sama jua. Seharusnya orang hanya perlu maju selangkah lagi untuk bertanya: kwalitas hidup yang bagaimana?
Kalau yang dipermasalahkan adalah kemampuan kaum pengarang mungkin di situ baru ada soal. Meskipun semua berharap bahwa apa yang diucapkan seorang penulis di tahun 1975 ini tidak benar: “Kepengarangan di Indonesia makin kelihatan miskin, renta, pucat dan tak punya semangat”. Fasilitas tak pernah sebegitu besar. Tetapi yang dilahirkan adalah burung merak. Zamannya zaman besar yang melahirkan manusia kerdil. Mungkin kita ditakdirkan untuk tersinggung seperti Brecht karena kita punya nama besar milik manusia kerdil. Kalau begitu, tak perlulah kita tinggalkan kumpulan tukang jual, di mana dusta dibeli. Di sanalah pasar. Dan di pasar dusta itu mahal harganya!