Prisma

Pelembagaan Sexualitas: Tinjauan Psiko Sosial tentang Perkawinan

Manusia menciptakan dirinya dan menciptakan diri bersama orang lain. Dalam alam manusia tidak ada sesuatu hal tanpa segi sosial: termasuk ke dalamnya gejala jasmaniah yang disebut sexualitas. Iapun tidak luput dari hal itu. Dewa-dewi pun ikut melangkah bersama para mempelai ke dalam kamar tidur (kata Augustinus) sehingga mereka hampir tidak memiliki waktu luang untuk aktivitas utama dari kamar itu. Segi kenikmatan dan segi realitas (kata Freud). Bertold Brecht melukiskan keberangan sang ibu yang berkata kepada anaknya yang lelaki: sejak lahirmu satu menitpun tidak kukecapi kenikmatan daripadamu. Ya! Kata anak yang pintar, tapi bagaimana sebelumnya? Dan memang ibu tidak bisa mengingkari kenyataan bahwa anak itu adalah buah kenikmatan, tapi semacam kenikmatan yang dibayar mahal.

Dalam kenikmatan atau birahi, sexualitas menampakkan dirinya sebagai gejala biologis. Dan rupanya dari sudut biologis sexualitas menjadi hal yang paling penting. Sesudah pemuda dan pemudi bersetubuh dan isteri menjadi ibu dan melahirkan anaknya mereka tidak penting bagi alam lagi dan dibuang ke tempat sampah (kuburan). Orang modern yang menjadi dua kali lebih tua daripada orang di abad menengah mendekati muka bumi tanpa tujuan dan belum jelas mengapa bukan mereka yang semestinya disoroti akan tetapi kenyataannya malah bayi-bayi yang belum lahir yang harus dipersoalkan penganut-penganut keluarga berencana.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan