Senantiasa terdapat kebimbangan tentang cara meningkatkan kesejahteraan petani: dengan insentif ekonomi atau ”telunjuk indoktrinasi”? Namun ada lapisan atas petani yang lebih siap menerima ajakan dunia perekonomian moderen. Dan, para pemuka lokal cenderung mengikuti kemauan penguasa di atas desa?
Mental Pembangunan Petani
DI dalam pembangunan ekonomi nasional dan berencana sampai dimanakah penilaian orang atas kemampuan petani sebagai pengusaha, dan sebagai manusia pembangunan menuju dunia moderen? Di dalam sejarah kolonial Indonesia maka di kalangan penguasa di negara jajahan dan Hindia Belanda sejak abad lalu tercatat laporan mengenai selisih pendapat tentang cara yang sebaikbaiknya untuk memanfaatkan masyarakat petani (pedesaan) kita: lewat pengenalan pasaran (ekonomi) atau dengan perintah (sistem tanam paksa) lewat pemuka pribumi?
Setelah dorongan ”politik etik” para penguasa sempat bereksperimen dengan penyuluhan pertanian dan koperasi sejak awal abad ini maka selama dua dasawarsa terakhir masa jajahan Hindia Belanda, Boeke sempat merumuskan suatu teori acuan. Dari lapisan atas petani di desa secara selektif sekali dapat ditemukan orang-orang yang ”siap” menyambut ajakan dunia perekonomian moderen: pendekatan pribadi pada mereka ini akan dapat berhasil. Sebaliknya, tak ada tempat bagi suatu pendekatan yang lugas (”zakelijk”) bagi orang banyak. Itulah dalil teori ekonomi dualistik Boeke!