Pendekatan Antropologi Ekologi
Kajian antropologi tentang transmigrasi di Indonesia terutama yang memfokuskan pada adaptasi transmigran di lokasi yang baru masih amat jarang. Pola umum strategi adaptasi, termasuk proses untuk dapat bertahan hidup yang digunakan para transmigran dari latar belakang budaya yang berbeda di daerah transmigrasi pasang surut digambarkan melalui tulisan ini. Di sini penulis menggunakan pendekatan antropologi-ekologi dengan mengasumsikan bahwa tingkah laku manusia merupakan hasil interaksi antara kondisi lingkungan, ekonomi dan budaya.
Sejumlah penelitian mengenai program transmigrasi telah banyak dilakukan, tetapi umumnya lebih berkaitan dengan aspek kebijaksanaan transmigrasi atau kondisi ekonomi transmigran.1 Penelitian di bidang antropologi mengenai transmigrasi, terutama yang memfokuskan pada adaptasi transmigran di lokasi baru masih jarang dilakukan. Tulisan ini bertujuan menggambarkan strategi adaptasi yang digunakan oleh para transmigran dari berbagai latar belakang budaya yang berbeda (Jawa-Banyumas dan Bali Nusapenida; selanjutnya disebut transmigran dari kelompok etnik Jawa dan Bali) hidup di daerah transmigrasi pasang surut Barambai, Kalimantan Selatan dengan kendala ekonomi dan ekologi yang sama. Untuk mencapai tujuan itu, studi ini menggunakan pendekatan antropologi-ekologi dengan mengasumsikan bahwa tingkah laku manusia merupakan hasil interaksi antara kondisi lingkungan, ekonomi dan budayanya.
Adaptasi merupakan salah satu konsep dasar di dalam antropologi ekologi. Dalam hal ini adaptasi menunjuk pada proses terjadinya hubungan timbal balik antara mahluk hidup dan lingkungannya.2 Adaptasi mempunyai arti yang berbeda untuk setiap orang. Dari sudut pandang evolusi biologi, adaptasi dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang dapat meningkatkan kementakan (kemungkinan) mahluk hidup bisa bertahan hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya pada kondisi lingkungan tertentu.3 Dengan demikian adaptasi adalah produk dari seleksi alam. Contoh yang seringkali digunakan, misalnya, Darwinian fitness menggunakan reproduksi sebagai indikator untuk mengukur sukses atau tidaknya suatu individu atau kelompok individu dalam mengadaptasikan diri.4
Sebaliknya dari sisi antropologi ekologi, adaptasi didefinisikan sebagai suatu strategi yang digunakan oleh manusia dalam masa hidupnya untuk mengantisipasi perubahan lingkungan baik fisik maupun sosial.5 Sebagai suatu proses dalam mengatasi perubahan tersebut, hal ini dapat berakhir dengan sesuatu yang diharapkan atau tidak diharapkan.6 Kapasitas manusia untuk dapat beradaptasi ditunjukkan dengan usahanya untuk mencoba mengelola dan bertahan dalam kondisi lingkungannya.7 Kemampuan suatu individu untuk beradaptasi, mempunyai nilai bagi kelangsungan hidupnya. Makin besar kemampuan adaptasi suatu mahluk hidup, makin besar pula kementakan kelangsungan hidup mahluk tersebut. Dengan demikian adaptasi merupakan suatu proses di mana suatu individu berusaha untuk memaksimalkan kesempatan hidupnya.8 Untuk Sahlin — seperti juga Andersonn9 — adaptasi merupakan suatu proses kompromi yang berlanjut dan tidak pernah akan berakhir dengan kesempurnaan. Adaptasi merupakan suatu proses yang sangat dinamis, karena lingkungan dan populasi manusia selalu berubah. Hardesty mengatakannya new problems and new solutions to old problems arise and must be taken into account.10
1 Lihat, H.W. Arndt, “Transmigration: Achievements, Problems, Prospects,” dalam Bulletin of Indonesian Economic Studies 19, 3, 1983, hal. 50-74; H.W. Arndt dan R.M. Sundrum, “Transmigration: Land Settlement or Regional Development,” dalam Bulletin of Indonesian Economic Studies 13, 3, 1977, hal. 72-90; W.L. Collier, “Social and Economic Aspects of Tidal Swamp Development,” dalam Symposium on Tidal Swamp-Land Development Aspects, 1979; P. Guinness (ed.), Transmigrants in South Kalimantan and South Sulawesi, Report Series No. 15 (Jogjakarta: Population Institute, Gajahmada University, 1977); J.M. Harjono, Transmigration in Indonesia (Oxford in Asia Current Affairs, 1977); J.M. Harjono, “Pattern and Policies in Migration and Resettlement in Indonesia,” dalam In Migration and Resettlement: Rural-Urban Policies, No. 2, Manila Social Welfare and Development for Asia and the Pacific, 1980; Heeren, Transmigration in Indonesia (Jakarta: P.T. Gramedia, 1979); G.W. Jones, “The Transmigration Programme and Development Planning,” dalam R.J. Pryor (ed.), In Migration and Development in Southeast Asia: A Demographic Perspective (Oxford: Oxford University Press, 1979), hal. 213-221; Suratman dan P. Guinness, “The Changing Focus of Transmigration,” dalam Bulletin of Indonesian Economic Studies, 3, 1977; Swasono, “The Land Beyond: Transmigration and Development in Indonesia.” Disertasi Ph.D., University of Pittsburgh, 1969.
2 Lihat, D.L. Hardesty, Ecological Anthropology (New York: McGraw-Hill, 1977).
3 Lihat, A. McElroy dan P. Townsend, Medical Anthroplogy in Ecological Perspective, 2nd ed. (Boulder: Westview Press, 1989).
4 Lihat, E. Mayr, Population, Species, and Evolution (Cambridge, Mass: Belknap Press, 1970); P.M. Siegel, “Human Ecology and Ecology,” dalam M. Micklin dan H.M. Choldin (eds.), Sociological Human Ecology: Contemporary Issues and Applications (Boulder: Westview Press, 1984), hal. 21-50; Rada Dyson-Hudson, “An Interactive Model of Human Biological and Behavioral Adaptation,” dalam Rada Dyson-Hudson dan M.A. Little (eds.), Rethinking Human Adaptation: Biological and Cultural Models (Boulder: Westview Press, 1983), hal. 1-22.
5 Lihat, A. Alland Jr., “Adaptation,” dalam Annual Review of Anthropology 4, 1975, hal. 59-73; A. Alland Jr. dan B. McCay, “The Concept of Adaptation in Biological and Cultural Evolution,” dalam J.J. Honigmann (ed.), Handbook of Social and Cultural Anthropology (Chicago: Rand McNally, 1973), hal. 143-78; E.F. Moran, Human Adaptability: An Introduction to Ecological Anthropology (Boulder: Westview Press, 1982); E.F. Moran, “Mobility as a Negative Factor in Human Adaptability: The Case of South American Tropical Forest Population,” dalam Dyson-Hudson dan Little, loc.cit, hal. 117-35.
6 Lihat, J.W. Bennet, The Ecological Transition: Cultural Anthropology and Human Adaptation (New York: Pergamon Press, 1976).
7 McElroy dan Townsend, op.cit.; Siegel, loc.cit.
8 M.D. Sahlins, “Culture and Environment: The Study of Cultural Ecology,” dalam Robert A. Manners dan David Kaplan (eds.), Theory in Anthropology: A Sourcebook (Chicago: Aldine, 1968), hal. 367-373.
9 Lihat, J. Anderson, “Ecological Anthropology and Anthropological Ecology,” dalam Honigmann, op.cit., hal. 179-239.
10 Hardesty, op.cit., hal. 33.