Prisma

Pemain-pemain Utama Dalam Pentas Sejarah Orde Baru

ADA beberapa aliran di dalam teori politik untuk membicarakan peran tokoh-tokoh di dalam perubahan zaman. Salah satu kelompok teori tersebut adalah yang berasal dari aliran behavioral di dalam ilmu politik yang mendapat dukungan penuh dan sangat populer pada tahun 1960-an. Aliran ini berkembang begitu jauhnya dan begitu pesatnya sehingga dikatakan mencapai kesempurnaan metodologis di dalam pencapaian statistikal yang rumit dan canggih.

Namun parodi konyol dari pendekatan seperti ini sering juga muncul dalam aplikasinya sehari-hari. Kadang-kadang timbul semacam ucapan naif bahwa tabiat dan temperamen tokoh-tokoh itulah yang menentukan corak zaman atau kurun zaman tertentu. Indonesia, misalnya, tidak merdeka seandainya tidak ada pemuda yang garang dan “agak kurang ajar”. Soekarno dan Hatta tidak akan memproklamirkan kemerdekaan seandainya mereka tidak diculik dan disimpan di Rengas Dengklok oleh pemuda. Kemerdekaan, suatu usaha puluhan tahun, disimplifikasikan menjadi akibat dari behavior, perilaku politik ganas para pemuda.

Di dalam literatur politik memang pernah berkuasa suatu kubu behavioral yang memberikan tekanan utama di hal-hal psikologis semacam ini. Hampir seluruh perlengkapan teoritis psikologis inilah yang dipergunakan sebagai suatu kerangka teoritis untuk menjelaskan peran tokoh di dalam sejarah baik secara sadar dalam kecanggihan metodologis, maupun di dalam analisa jalanan tentang peristiwa-peristiwa politik pada umumnya.1

Paradigma utama di dalam membah as tokoh-tokoh di dalam politik adalah paradigma psikologis, sehingga tinjauan politik terhadap peran tokoh-tokoh adalah tinjauan behavioral. Di mana letak paradigma utama mereka? Seluruh tinjauannya didasarkan pada “permainan” interaktif tiga komponen utama berikut ini.

Pertama, adalah faktor lingkungan dalam artinya yang luas yang menyangkut lingkungan sosial, politik, dan ekonomi. Namun ada lagi kualifikasi lain tentang lingkungan. Lingkungan itu tidak dengan sendirinya mempengaruhi pribadi seseorang tetapi lingkungan sebagaimana ditafsirkan seseorang, environment as perceiveld; jadi persepsi tentang lingkungan itulah yang lebih penting dan lebih merasuk sikap seseorang.

Lingkungan inilah yang pada gilirannya akan membentuk komponen kedua yaitu yang disebut sebagai predisposisi yaitu suatu kecenderungan psikis yang sudah siap untuk memberikan reaksi tertentu secara psikologis, tergantung dari rangsangan, stimulus, yang diberikan. Seperti dikemukakan di atas persepsi tentang lingkungan dianggap lebih penting dari lingkungan itu sendiri. Dengan ini psikologi politik masuk sepenuh-penuhnya. Aspek kognitif, yaitu pengetahuan, informasi seseorang menjadi penting untuk mengolah dan mengorganisasikan pengalamannya. Baru pada akhirnya yaitu komponen ketiga ialah political response dari seseorang.2


1 Suatu studi yang sangat baik, yang mungkin menjadi klasik di bidangnya, adalah serial yang membahas politik makro dan politik mikro dengan editors, Fred I Greenstein dan Nelson W. Polsby, Handbook of Political Science, Addison-Wesley Publishing Company, Reading, Massachussetts, London, Amsterdam, Sydney, 1975. Jilid yang khusus membahas masalah ini adalah Micro Political Theory, di dalam jilid 2 dari seluruhnya 8 jilid.

2 Secara teoritis seluruh paradigma tersebut di atas bisa dirumuskan secara matematis B=f (PE). B, behavior, tingkah laku, adalah fungsi dari predisposition, sikap, dan environment, lingkungan. Lihat ibid., hlm. 5-16. Konsep ini sebetulnya sudah dikenal dan dikerjakan oleh para pendahulu di dalam ilmu politik seperti Harold Lasswell dan Abraham Kaplan, Power and Society, A Framework for Political Inquiry, New Haven, Yale University Press, 1950. Konsep sejenis ini pulalah yang sering dipakai di dalam penelitian pemilihan umum. Versi lain dari teori ini adalah perumusan paradigma perilaku sebagai: stimulus-organism-response.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan