Pengetahuan pendahuluan perihal karakteristik suatu daerah akan sangat banyak membantu dalam menganalisa proses pembangunan daerah tersebut. Menurut Hidayat, ada tiga hal yang merupakan karakteristik daerah Jawa Barat, yaitu: lokasinya yang berdekatan dengan DKI Jakarta; terdapatnya empat perguruan tinggi; dan struktur daerah yang dialiri banyak sungai. Ketiga karakteristik ini terbukti sangat berperan dalam proses penyusunan kebijaksanaan strategis Jawa Barat dalam Pelita III. Diharapkan melalui beberapa kebijaksanaan strategis yang dijalankan, maka pada akhir Pelita III Jawa Barat sudah dapat memasuki tahap lepas landas.
Karangan ini mencoba mengulas masalah dan prospek pembangunan Jawa Barat selama periode Pelita III. Bagi seorang penulis yang ingin menganalisa pembangunan di suatu daerah alangkah baiknya kalau dibekali dengan pengetahuan pendahuluan perihal karakteristik daerah tersebut. Menurut hemat saya ada tiga hal yang mewarnai wajah Jawa Barat. Pertama, lokasinya yang berbatasan dengan ibukota Republik Indonesia yaitu DKI Jakarta. Dilihat dari pendekatan pengembangan wilayah (pusat pertumbuhan) maka dengan daya tarik yang kuat yang berpusat di Jakarta, ada kecenderungan sebagian daerah yang secara administratif termasuk Jawa Barat tetapi secara ekonomis dan sosial lebih memacu pada pola pengembangan pembangunan Jawa Barat sendiri. (Seperti wilayah yang kini dikenal dengan Jabotabek yang terdiri dari Jakarta dan empat daerah tingkat II yang termasuk Jawa Barat yaitu Kotamadya Bogor dan Kabupaten Bogor, Tangerang, Bekasi). Faktor lokasi tersebut menyebabkan pola perencanaan dan implementasi program pembangunan yang dikendalikan oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Barat (yang berpusat di Bandung) menjadi lebih sulit dan kompleks dibandingkan dengan propinsi lainnya. Keadaan itu menuntut para perencana pembangunan di Jawa Barat untuk selalu bersikap responsif terhadap dinamika proses pembangunan di daerah perbatasan dengan Jakarta. Sebagai karakteristik kedua yaitu terdapatnya empat perguruan tinggi negeri yaitu IPB di Bogor, dan ITB, Unpad, IKIP di Bandung, di mana dua lembaga yang disebut terdahulu memiliki reputasi internasional. Adanya lembaga perguruan tinggi yang bertaraf internasional memiliki implikasi bahwa jarak komunikasi antara pusat pengembangan ilmu pengetahuan di luar negeri dengan lembaga di dalam negeri menjadi lebih pendek. Ini berarti bahwa arus informasi dari luar negeri dengan cepat dapat masuk ke kampus mendahului ke struktur formal yang berpusat di Jakarta. Bagi Pemda tingkat I Jawa Barat dialog antara kampus di daerahnya dengan pemerintah pusat di Jakarta atau kampus luar negeri seolah-olah berjalan tanpa menyentuh tubuhnya. Keadaan tersebut sukar kita bayangkan dapat terjadi di propinsi lain karena arus informasi dan dialog yang masuk ke kampus setempat selalu termonitor oleh Pemdanya. Hal lain yang patut diketengahkan adalah bahwa dengan terdapatnya empat lembaga perguruan tinggi negeri di Jawa Barat maka masyarakat kampus, terutama para pembinanya, cenderung menuntut suatu persyaratan kualitas yang bermutu dari aparatur pemerintahan daerahnya (termasuk anggota DPRD tingkat I dan II). Dilihat dari kampus, diharapkan agar para penguasa daerah dalam mengemukakan pendapat atau mengeluarkan instruksi jangan terlalu banyak mempergunakan pendekatan yang bersifat normatif melainkan yang bersifat analitis. Sebagai karakteristik ketiga ialah struktur daerah Jawa Barat yang diairi oleh 51 sungai di antaranya 3 aliran sungai menjurus dan bermuara ke Selat Sunda, 28 ke Laut Jawa dan 20 ke Samudera Indonesia. Sifat dari sungai yang ada di Jawa Barat pada umumnya tipe sungai hujan yaitu debitnya ditentukan oleh curah hujan (sangat deras pada musim hujan). Berdasarkan daerah pengaruh suatu aliran sungai, daerah Jawa Barat dapat dibagi menjadi lima DAS (daerah aliran sungai) besar yaitu: Ciujung, Cisedane, Citarum, Cimanuk dan Citandui. Dengan adanya DAS itu memang menguntungkan bagi pengairan persawahan. Tetapi dengan masih terdapatnya golongan masyarakat Jawa Barat yang tergolong miskin yang hidup di sekitar DAS maka proses penurunan kualitas lingkungan di daerah DAS menjadikan daerah tersebut tergolong rawan.
Ketiga karakteristik tadi sangat berperan dalam proses penyusunan kebijaksanaan strategis Jawa Barat untuk Pelita III. Sebelum membahas hal-hal yang bertalian dengan Pelita III, terlebih dahulu akan diketengahkan suatu evaluasi struktur sosial dan ekonomi Jawa Barat sebelum tahun 1979.
* Saya menyampaikan terimakasih kepada Bappeda Jawa Barat yang mengizinkan saya menggunakan beberapa data untuk dipakai dalam karangan ini. Selama pembuatan karangan ini saya telah banyak memperoleh saran konstruktif dan komentar dari Uton Mochtar Rafei dan Moch. Hanafiah dari Bappeda, Sutarja (Pemda), Yuyun Wirasasmita (FE-Unpad), dan Moh. Halim (ITB). Tetapi kesalahan yang masih terdapat dalam karangan ini adalah tanggungjawab saya sepenuhnya.