Sebagai Wahana Pembangunan Bangsa
Pembangunan Keluarga Sejahtera bertujuan meningkatkan kualitas keluarga agar mampu berfungsi sebagai wahana pembentukan sumberdaya manusia yang efektif bagi pembangunan nasional. Berbagai tantangan memang masih menghadang, antara lain adanya penduduk rentan dan miskin. Mereka tidak mampu mengembangkan potensinya akibat berbagai hambatan. Inilah tugas semua pihak untuk bahu membahu memberikan berbagai kemampuan kepada keluarga-keluarga yang rentan.
Pendahuluan
Selama Pembangunan Jangka Panjang I Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Berencana di Indonesia diarahkan pada upaya mengatasi (1) besarnya jumlah penduduk, (2) tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi disebabkan tingkat kelahiran yang tinggi, (3) persebaran penduduk yang kurang merata antara Pulau Jawa, Madura, Bali dan Lombok dengan pulau-pulau lain, (4) masih terlalu besarnya jumlah penduduk yang mata pencahariannya dalam bidang pertanian, (5) kondisi sosial-ekonomi penduduk yang rendah antara lain ditunjukkan oleh tingkat pendidikan dan kesehatan penduduk yang belum memadai (Haryono Suyono, 1993).
Perkembangan kependudukan melalui pembangunan Keluarga Berencana untuk mengatasi persoalan-persoalan pokok tersebut ternyata telah membuahkan hasil yang sangat menggembirakan. Laju pertumbuhan penduduk telah menurun dari 2,32 persen per tahun selama kurun 1970-1980, menjadi 1,66 persen pada akhir PJP I. Penurunan laju pertumbuhan penduduk merupakan akibat menurunnya angka kelahiran kasar dari 44,0 kelahiran kasar per 1.000 penduduk pada 1971 menjadi 24,5 per 1.000 penduduk pada 1992. Angka kelahiran total menurun dari 5,6 anak per wanita selama kurun 1967-1970, menjadi 2,87 anak per wanita pada akhir PJP I. Angka kematian bayi menurun dengan sangat mencolok yaitu dari 145.0 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 1967, menjadi 58,0 pada akhir PJP I. Angka rata-rata harapan hidup telah meningkat dari 45,7 tahun pada kurun waktu sebelum PJP I menjadi 62,7 tahun pada akhir PJP I.
Sementara itu permasalahan kependudukan terus berkembang dan mengharuskan kita menjawab tantangan-tantangan baru yang cukup beragam.
Di masa yang akan datang, persoalan penduduk usia produktif akan makin mengedepan. Pada akhir Pelita VI nanti, penduduk usia 16-60 tahun akan mencapai 125 juta orang. Dibandingkan dengan jumlah 102 juta orang pada tahun 1990, kita temukan peningkatan sebesar kurang lebih 8 persen. Bagaimana menjadikan penduduk usia produktif ini modal pembangunan dan bukan sekedar beban? Aset pembangunan seperti Sumber Daya Alam lama kelamaan akan berkurang; namun salah satunya yang akan terus bertambah adalah Sumber Daya Manusia. Kelompok usia produktif, terutama kelompok penduduk usia muda yang memiliki kondisi fisik yang sehat dan mental yang segar, baru dapat diandalkan bila mendapatkan pengkayaan di segi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), di segi keterampilan dan etos kerja. Untuk mendapatkan SDM yang berkualitas, artinya yang memenuhi ketiga persyaratan tadi, investasi manusiawi (human investment) harus dilakukan sedini mungkin. Investasi manusiawi akan menghasilkan peningkatan modal manusiawi (human capital). Tanpa investasi tidak akan terjadi pengembangan modal. Dalam hal modal manusiawi, maka aspek kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan ekonomi penduduk tampaknya perlu mendapat prioritas.
Bila kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan ekonomi penduduk meningkat, maka rata-rata usia harapan hidup penduduk pun akan naik pula; seterusnya dalam masyarakat akan terjadi ledakan Penduduk Usia Lanjut (PUL). Banyak di antara mereka masih segar kondisi fisiknya dan masih jernih proses mentalnya. Mereka menyuguhkan tantangan baru bagi para perencana kependudukan, yaitu tantangan berupa sanggupkah pemerintah dan masyarakat menampung dan mendayagunakan pengetahuan dan pengalaman serta kearifan PUL tersebut bagi kepentingan bersama. Sebaliknya, bagi PUL yang telah sangat renta, mungkin sebagian mereka mengidap penyakit degeneratif. Dapatkah pemerintah dan masyarakat menyediakan pelayanan kesehatan dan pelayanan lain bagi berbagai kebutuhan PUL yang serba khusus itu?
Salah satu tantangan penting yang perlu pula diselesaikan secepat mungkin ialah mengurangi jumlah penduduk yang tergolong miskin, termasuk mereka yang secara ekonomis miskin atau pun penduduk rentan. Penduduk rentan yaitu mereka yang dalam berbagai matranya tidak atau kurang mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan potensinya sebagai akibat berbagai hambatan.