Prisma

Pemikiran Islam di Nusantara dalam Perspektif Sejarah

Sebuah Sketsa

Dari sudut historis, perkembangan Islam di Indonesia mengalami pasang-surutnya sendiri. Menurut Taufik Abdullah, gerak laju Islam dewasa ini telah memasuki era “gelombang-kelima” yang dicirikan antara lain oleh sifatnya yang kosmopolitan dan internasional, serta melibatkan golongan terpelajar (sekuler) dan generasi muda.

SEANDAINYA saya ditanyai mengenai ada atau tidaknya perbedaan gaya hidup mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri di zaman saya (1960-an) dengan sekarang, maka saya akan mengatakan bahwa perbedaan itu terasa sekali dalam kehidupan keagamaan. Tentang situasi belajar, sama saja. Kegelisahan menghadapi ujian, bacaan wajib yang terasa “kebangetan”, makalah yang harus ditulis dalam bahasa yang masih dianggap “musuh”, dan tentu saja, beasiswa yang rasanya tak pernah memadai, dan seterusnya adalah cerita lama. Begitu dua puluh tahun yang lalu (atau malah sebelumnya), demikian pula kini. Tetapi berbeda keadaannya dalam hidup keagamaan, setidaknya di kalangan yang beragama Islam. Kini di banyak kota universitas, baik di Jepang, Australia, Amerika Serikat, maupun Eropa Barat, para mahasiswa Indonesia mengadakan secara rutin pengajian-pengajian. Ada yang masih sibuk mengeja-eja dalam membaca al-Qur’an. Tetapi ada pula yang secara “alamiah” tampil sebagai “guru besar”, meskipun di universitas dia barulah calon sarjana muda. Tetapi, segera setelah pembacaan al-Qur’an selesai, diskusi yang cukup intens terhadap masalah-masalah keagamaan pun dilakukan.

Aspek yang menarik dari gejala ini bukanlah diskusi yang muncul dalam pengajian itu, tetapi kenyataan bahwa pengajian itu diadakan. Agama yang telah diperlakukan sebagai sesuatu yang bersifat pribadi, kini makin ingin diperkuat dalam konteks suatu komunitas. Kelompok-kelompok pengajian yang jauh di “rantau orang” itu adalah komunitas-komunitas yang sengaja dibentuk untuk memungkinkan sesuatu yang pribadi itu tetap utuh dan berkembang di tengah-tengah sausana kultural yang tak ramah dan asing. Keprihatinan akan keutuhan iman, yang diwujudkan dalam penumbuhan komunitas-sementara ini, dulu sama sekali tak dirasakan. Kini, bahkan dengan kecanggihan teknologis, tak jarang terjadi “renungan religius” sebuah kelompok pengajian di Amerika Serikat, umpamanya, dikirimkan langsung lewat komputer, ke Australia. Maka dialog antar-benua pun terjadi. Jadi, tampaklah agama tak lagi diperlakukan sebagai sesuatu “yang telah begitu semestinya”, tetapi sesuatu yang harus dibina dan dipupuk dalam keakraban wacana. Agama seakan-akan makin bermakna ketika ia tidak saja dipupuk, tetapi dijadikan sebagai landasan renungan dan sasaran dialog.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan