Prisma

Pemikiran Islam Indonesia Dekade 1980-an

Perkembangan pemikiran Islam di Indonesia sudah seharusnya dilacak dalam konteks dinamika internalnya dan lepas dari perbandingannya dalam konteks global. Menurut Ihsan Ali-Fauzi alasannya jelas, yakni umat Islam di Indonesia sudah merupakan bagian yang sangat penting dalam konsep keindonesiaan. Ini harus diakui bahwa Indonesia memiliki konteks historis dan persoalannya sendiri.

KAUM muslimin percaya pada tradisi (hadits) yang menyebutkan bahwa, pada akhir setiap abad, akan terjadi pembaruan menyeluruh terhadap kondisi lama, dimulai dengan munculnya seorang atau sekelompok penggerak sosial yang tercerahkan, yang menyediakan picu rekonstruksi sosial besar-besaran. Pembaruan ini pertama-tama akan terjadi dalam bidang pemikiran, pada lingkup konsepsional, yang niscaya akan berujung pada pembaruan realitas.

Di sini bukan tempatnya untuk meninjau hadits ini dari sudut teologis, religious, filsafat sejarah, atau lainnya, dengan misalnya mempersoalkan implikasi praktisnya untuk melihat siklus sejarah kaum muslimin. Yang relevan diperhatikan adalah kenyataan bahwa hadits itu, tanpa peduli akan keabsahan historisitasnya, secara psikologis dan sosiologis menentukan definisi dan gambaran dari kaum muslimin, baik individu maupun sosial, yang akhirnya mempengaruhi pula tindakan-tindakan individu dan sosial mereka.1 Tak terkecuali kaum muslimin di Indonesia. Tidak mengherankan jika masuknya abad XV H, disambut dengan gegap gempita, dengan harapan akan munculnya terobosan dan terbukanya kemungkinan baru. Juga tidak mengherankan kalau kaum muslimin berhitung-hitung dengan akan masuknya kita ke abad XXI M.


1 Betapa kuatnya kesadaran kaum muslimin dirasuki hadits ini, hingga seorang seperti Hassan Hanafi, seorang pemikir muslim yang sangat radikal dan liberal kelahiran Mesir, pun masih tetap mempercayainya. Lihat tulisannya, “The Origin of Modern Conservatism and Islamic Fundamentalism,” dalam Ernest Gellner (ed.), Islamic Dilemmas: Reformers, Nationalists and Industrialization, Mouton, Publishers, Berlin, London, New York 1985, hal. 94. Terjemahan artikel ini dapat dibaca dalam Ulumul Qur’an, vol. II, no. 7 (Oktober-Desember 1990), hal. 18-25.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan