Permasalahan
Pengalaman di Indonesia semenjak lebih dari 2 dasawarsa menjelang tahun 1967 mengungkapkan bahwa kebijaksanaan ekonomi yang ditempuh sebelumnya tidak menghasilkan apa yang diharapkan dari pertumbuhan ekonomi: pembagian hasil yang merata dan penciptaan kerja yang memadai untuk menampung penduduk yang cepat meningkat.1 Studi yang dilakukan dalam bidang pembagian pendapatan nasional di negara-negara sedang berkembang menunjukkan bahwa di masa-masa pembangunan pembagian pendapatan nasional justru cenderung meningkatkan perbedaan itu untuk jangka pendek dan akan menjadi lebih merata dalam jangka panjang.2 Trend perkembangan pembagian pendapatan nasional di Indonesia agaknya juga tidak terlepas dari kecenderungan ini. Perbedaan yang makin membesar tampak antara 20 persen golongan penduduk yang paling rendah pendapatannya dan 20 persen yang paling tinggi pendapatan per kapitanya. Investasi yang dilakukan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi hasilnya lebih banyak mengelompok pada golongan yang berpenghasilan tinggi dan kurang mengenai sasaran golongan yang berpenghasilan rendah.3 Demikian pula pengangguran tidak menunjukkan kecenderungan untuk menurun.4
1 Edgar O. Edwards, Employment in Developing Countries. Report on a Ford Foundation Study, Columbia University Press, 1974; bacalah juga: ILO, Employment, Growth and Basic Needs. A One-World Problem, Geneva, 1976.
2 S. Kuznets, “Economic Growth and Income Inequality,” American Economic Review, March 1955; bacalah juga: Adelman and C.T. Morris, Economic Growth and Social Equity in Developing Countries, Stanford, 1973, dan S. Kuznets, Modern Economic Growth. Rate, Structure and Growth, Yale University Press, 1972. Kuznets dalam penelitiannya mengatakan bahwa perubahan struktur produksi merupakan mekanisme daripada timbulnya perbedaan penghasilan dan perbedaan itu mengurang dengan berlangsungnya pembangunan. Dengan mempergunakan model lain Adelman dan Morris juga menemukan kecenderungan pembagian pendapatan nasional yang serupa.
3 Dwight Y. King & Peter D. Weldon, “Distribusi Pendapatan dan Tingkat Hidup di Jawa 1963-1970”, Ekonomi dan Keuangan Indonesia, Desember 1975; baca juga: Anto Dajan, Rural Economic Development and Urbanization, Lembaga Demografi Universitas Indonesia, kertas kerja yang dikemukakan pada pertemuan The Population Association of America, April 29-May 1, 1976 di Montreal, Kanada. Anto Dajan menunjukkan bahwa jangka waktu yang disebut oleh King & Weldon itu golongan 20 persen quintile yang tertinggi pendapatannya meningkat sebesar 13 persen sedangkan golongan 20 quintile yang termiskin di daerah kota menurun kurang lebih 18 persen. Sebagai bagian dari pendapatan nasional, ini berarti penurunan dari 9,5 persen dalam tahun 1963-1964 menjadi 7,8 persen dalam tahun 1969-1970. Ia mengemukakan membesarnya perbedaan di daerah kota. Adanya meksikinan di daerah kota ini juga diungkapkan oleh Gustav F. Papanek: “The Poor of Jakarta”, Economic Development and Cultural Change, October 1975, laporan mengenai hasil survei yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Indonesia. Survei itu menunjukkan bahwa pada golongan termiskin sebanyak 85 persen dari pendapatannya dipergunakan untuk membeli makanan dan rokok. Tidak ada seorang pun dari responden yang mampu membeli daging atau ikan, 66 persen hanya makan nasi dan gara IGGI. Investasi kedua dilakukan melalui Penanaman Modal Asing yang persetujuannya mencapai jumlah US$ 6,51 milyar akhir bulan Maret 1976.⁷ Jumlah ini, sayuran dan hanya 27 persen yang mempunyai 3 stel pakaian.
4 Sensus penduduk tahun 1961 menunjukkan angka pengangguran sebesar 5,5 persen sedangkan Sensus Penduduk 1971 angka meningkat menjadi 8,8 persen (lihat BPS, Sensus Penduduk 1971, Seri D). Perlu diperingatkan di sini bahwa sensus 1961 dan sensus penduduk 1971 mempergunakan definisi yang berbeda mengenai istilah pengangguran. Penulis hendak menunjukkan bahwa pengangguran belum berkecenderungan untuk menurun. Laporan dalam: Lembaga Demografi, Laporan Hasil Survei Pengangguran Daerah Kota, Jakarta 1972, juga menunjukkan bahwa berdasarkan atas metode kegiatan dengan mempergunakan referensi waktu 1 minggu, tingkatkan pengangguran di Jakarta adalah 11 persen, Surabaya 7,5 persen dan Bandung 12,1 persen.

