SEJAK 1960-an secara meluas timbul kesadaran bahwa pengendalian pertambahan penduduk merupakan unsur penting dalam pembangunan ekonomi. Atas dasar itu berbagai negara sedang berkembang melaksanakan program keluarga berencana (KB). Di balik itu terdapat asumsi bahwa program KB, apabila dikelola dengan baik, memberikan imbalan yang besar. Tiap dolar yang diinvestasikan akan kembali menjadi 22 dolar dalam waktu yang relatif tidak lama.1
Pengendalian pertumbuhan penduduk merupakan unsur penting dalam pembangunan ekonomi. Program Keluarga Berencana di Indonesia dapat berhasil karena ditopang oleh kemajuan pendidikan, peningkatan mobioitas penduduk, bertambahnya wanita dalam angkatan kerja, dan lain-lain. Tetapi, masalah internalisasi motivasi melaksanakan KB tampaknya masih merupakan persoalan tersendiri.
1 Haryono Suyono, Membangun Sumber Daya Manusia dengan Mengembangkan Ciri-ciri Penduduk untuk Membangun Kejayaan Bangsa. (BKKBN: 1988), hal. 27.