Prisma

Pendekatan Baru Memahami Dunia Pedesaan

Robert Chambers, Memahami Desa Secara Partisipatif (terjemahan) (Yogyakarta: Kanisius, 1996) 114 halaman.

Ide-ide Robert Chambers selalu menekankan pada pendekatan dari bawah; belajar dari orang miskin dan membangun dari belakang, serta metode partisipasi sangat bermanfaat untuk memahami dunia perdesaan sampai ke akar-akarnya. Dalam buku sebelumnya, “Rural Development: Putting the Last First” (1983) yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh LP3ES menjadi; “Pembangunan Desa: Mulai dari Belakang”, Chambers mengritik habis-habisan pendekatan pembangunan perdesaan yang bersifat “top-down”.

Pembangunan perdesaan melalui jalur resmi birokrasi dinilai lebih banyak bersifat seremonial. Alokasi anggaran pembangunan desa sebagian besar dinikmati oleh pelaksananya yang menginap dari hotel ke hotel. Kunjungan para pejabat — yang disebut oleh Chambers sebagai “Wisatawan pembangunan” — tidak akan mampu menggali permasalahan yang sesungguhnya. Temu wicara dengan para petani seringkali menghasilkan kesimpulan yang salah. Petani yang mampu berbicara pada forum-forum seperti itu terbatas pada petani mandiri, ketua kelompok, elit desa atau bahkan penyuluh pertanian. Orang miskin, yang pada dasarnya menjadi objek utama dari pembangunan perdesaan, selalu luput dari perhatian dan jangkauan. Bantuan pembangunan desa seringkali jatuh pada kelompok yang bukan sasaran, seperti elit desa atau perangkat desa yang biasanya merupakan keluarga dekat Kepala Desa (Kades). Chambers pun mencatat bahwa rombongan penyambutan kunjungan pejabat terpanjang di dunia terjadi di Indonesia.

Meskipun Chambers mengambil contoh dari berbagai desa di beberapa negara, tetapi fenomena di buku per-tama itu seolah-olah hadir di perdesaan nu-santara ini. Kunjungan pemerintah atasan ke desa-desa seringkali memberatkan anggaran Kades. Sifatnya cenderung seremonial dengan berbagai upacara penyambutan, penuh dengan publikasi, mengumpulkan orang desa dan melakukan temu wicara. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam acara itu selalu minta petunjuk — yang orang desa sendiri sebenarnya lebih tahu. Wisatawan pembangunan desa selalu menggurui berbagai hal, yang mereka sendiri sebenarnya kurang paham.

Orang luar selalu merasa lebih tahu dan lebih rasional daripada orang desa, padahal pengertian tahu dan rasional sebenarnya relatif. Di daerah perdesaan, yang lebih tahu dan rasional adalah orang desa itu sendiri. Sebagai contoh, pengetahuan petani mengenai cuaca dan musim tidak kalah akuratnya dengan ramalan Badan Meteorologi dan Geofisika.

Waktu dan dana yang terbuang untuk acara seremonial sebaiknya memang digunakan untuk mencari mereka yang paling miskin untuk belajar dari mereka dan memberdayakannya.

Penelitian

Formulasi kebijakan pembangunan desa berawal dari penelitian. Penelitian yang salah akan merekomendasikan kebijakan yang salah.

Metode penelitian perdesaan yang berkembang sejak tahun 1970-an adalah memahami perdesaan secara cepat (Rapid Rural Apparaisal = RRA). Dalam RRA, orang luar lebih banyak mengambil informasi dengan menggunakan kuesioner. Ada berbagai asal-usul yang memunculkan metode RRA menggantikan metode penelitian biasa; pertama, ketidakpuasan terhadap adanya bias, terutama bias anti kemiskinan yang ditimbulkan oleh wisatawan pembangunan desa, yakni suatu fenomena kunjungan singkat ke desa yang dilakukan oleh profesional dari kota. Muncul berbagai macam bias seperti bias keruangan. Peneliti hanya tertarik pada desa-desa yang dekat dengan perkotaan. Bias personal, yaitu, peneliti lebih tertarik pada kaum laki-laki dari pada perempuan atau elit desa daripada kaum miskin; bias musim yaitu peneliti lebih tertarik bepergian pada musim-musim sejuk dan dingin daripada musim panas dan musim hujan yang justru seringkali berakibat buruk pada penduduk perdesaan; bias diplomatik di mana orang luar tidak mengharapkan bertemu dengan orang-orang miskin atau kondisi buruk yang membuat pejabat di daerah itu menjadi kurang “nyaman”. Semua itu dapat berkombinasi untuk menyembunyikan kemiskinan yang paling buruk.

Kedua, kekecewaan terhadap proses konvensional melalui kuesioner dan hasil-hasilnya. Pengalaman menunjukkan bahwa survai kuesioner cenderung berlebihan, membosankan, memusingkan, proses penulisannya sangat sulit, data yang diperoleh kadang-kadang tidak akurat dan tidak dapat dijadikan acuan dalam laporan dan bila harus dilaporkan akan memakan waktu yang cukup lama, informasi yang dikumpulkan kadang-kadang menyesatkan, sulit digunakan hingga akhirnya kadang-kadang diabaikan.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan