Kesulitan, atau bahkan kebingungan, dalam setiap pembicaraan mengenai pendidikan mungkin bersumber pada kenyataan bahwa lembaga ini merefleksikan masalah-masalah atau tantangan mendalam yang dihadapi Indonesia sebagai negara yang belum lama merdeka. Pembicaraan mengenai filsafat dan kebijaksanaan pendidikan selalu dengan sendirinya menuntut kejelasan wawasan masa lalu, kebutuhan-kebutuhan mendesak masa kini dan harapan subyektif masa depan. Jika wawasan terhadap ketiga dimensi kesejarahan dari suatu masyarakat dan negara ini kabur atau penuh keporak-porandaan, maka sulitlah diharapkan suatu filsafat dan kebijaksanaan yang jernih dan mantap.
Pendidikan dengan demikian merupakan lembaga yang sarat dengan beban kesejarahan. Melalui lembaga ini suatu masyarakat akan melestarikan nilai-nilai, etika dan kekuatan spiritual yang tercerna dalam sejarah dan diharapkan akan mampu melanggengkan masyarakat itu. Suatu masalah yang substansial sifatnya akan muncul, jika suatu masyarakat tidak mampu secara tegas mendefinisikan masa lalunya serta pertentangan-pertentangan yang terkandung dalam tradisinya. Dalam jajaran persoalan ini — berhubung Indonesia termasuk negara baru — adalah masalah pembinaan kebangsaan, kemasyarakatan dan kehidupan kenegaraan pada umumnya.
Tidak kalah beratnya adalah tuntutan mendesak masa kini yang tumbuh secara obyektif, baik dari dalam maupun dari luar. Tekanan penduduk, penyiapan sumber daya manusia dalam berbagai tingkatannya, serta perencanaan dan koordinasi dengan bidang-bidang lain dalam kehidupan ekonomi, masyarakat dan negara, tentulah membutuhkan pemetaan persoalan secara jelas. Sementara itu kehidupan di luar pendidikan itu sendiri berubah-ubah dan terkadang menolak untuk diramal secara tepat. Kenyataan bahwa Indonesia kini sudah berdiri sebagai bangsa dan negara merdeka di tengah-tengah dunia, juga pada dirinya telah menciptakan tekanan-tekanan yang cukup berat. Kesulitan perekonomian yang menimpa banyak kawasan dunia yang di banyak tempat dihadapi dengan sikap keras proteksionis, peningkatan efisiensi dan penataan kembali perekonomian, juga merupakan pertanda yang tak bisa tidak haruslah ditangkap maknanya oleh pemikir filsafat pendidikan dan pengelola yang bertanggungjawab atas kelangsungan pendidikan. Dan bukan hanya itu. Perubahan jangka pendek juga menimbulkan implikasi terhadap anggaran, dan oleh satu dan lain pertimbangan, pendidikan juga kadang-kadang terpaksa tidak memperoleh prioritas yang tinggi.
Masa depan juga sedikit banyak terbebankan pada dunia pendidikan. Ketidakjelasan secara operasional mengenai masa depan sesuatu bangsa juga akan mempersulit penegasan filsafat pendidikan dan pemilihan perangkat kebijaksanaan. Sebab, pada dasarnya pendidikan adalah tempat penempaan manusia untuk masa depan dan untuk masa depan tertentu yang secara subyektif menuntut untuk dipilih di masa kini. Bahaya dari desakan untuk menata pikiran tentang masa depan dan pengoperasiannya sehari-hari serta kerumitan yang terdapat di dalamnya adalah bahwa ia, kalau salah-salah, bisa menimbulkan kebingungan kalau tidak fatalisme.
Di atas ketiga beban kesejarahan yang tertumpu pada dunia pendidikan, adalah bahwa, diakui atau tidak, di sebagian besar Dunia Ketiga filsafat pendidikan, kebijaksanaan dan kelembagaan pendidikan masih merupakan warisan masa kolonial yang dikembangkan di Barat pada masa kolonial. Jika orang kemudian merasakan bahwa pendidikan Barat pun sudah tidak mampu mengatasi masalah-masalah ekonomi dan masyarakat Barat, maka di Dunia Ketiga masalahnya bukan hanya harus mengganti warisan masa kolonial di masa lalu; tetapi lebih dari itu adalah menciptakan kebijaksanaan dan filsafat pendidikan yang benar-benar dibutuhkan oleh Dunia Ketiga, baik ke dalam maupun ke luar. Gabungan dari beban-beban kesejarahan, desakan perlunya perombakan kelembagaan dan keterbatasan anggaran inilah mungkin yang menyebabkan kerumitan dan kebingungan dalam setiap pembicaraan mengenai pendidikan.