Tulisan ini membahas perubahan struktural, implikasinya terhadap pendidikan dan hubungannya dengan pertumbuhan produktivitas, sebagaimana dibedakan menurut tingkat investasi dan nilai balik tiap jenis investasi dalam tiap industri. Dalam dua puluh tahun mendatang sasaran pendidikan perlu mencakup perluasan yang lebih cepat pada pendidikan tinggi, bidang industri yang ditunjang pelayanan pendidikan menengah serta sekolah-sekolah kejuruan.
negara berkembang, dan pada penelitian mutakhir tentang keuntungan atau nilai balik investasi bidang pendidikan di Indonesia merupakan hal utama bagi spesifikasi fungsi-fungsi produksi pada model-model makrodinamik jangka menengah.1 Fokus pada nilai balik ini juga penting untuk menyusun sasaran pembangunan jangka panjang dan kebijakan yang mendukung yang paling tepat digunakan untuk membuat suatu landasan pertumbuhan per kapita secara lebih cepat disertai usaha mengentaskan kemiskinan.
Bagaimana cara nilai balik pendidikan menjadi bagian dari model makrodinamik ditentukan oleh fakta bahwa pendidikan secara inheren adalah investasi, sama halnya dengan bentuk investasi lain pada modal fisik. Pendidikan menanamkan kapasitas baru untuk belajar serta keterampilan modal manusia produktif lainnya. Teristimewa pendidikan menambah dan memungkinkan penggunaan batang tubuh pengetahuan seperti teknik produksi moderen dan organisasi produksi yang dikembangkan di negara-negara industri serta memungkinkan penyebaran kemajuan teknik di Indonesia yang merupakan kekuatan utama pertumbuhan ekonomi. Akuisisi dan aplikasi pengetahuan ini ditentukan sebagian besar oleh situasi apakah penduduk telah memiliki sifat dan motivasi yang berkaitan dengan pendidikan formal, berasumsikan bahwa sekolah mencakup subyek yang bersifat rasional, sekular yang menekankan pengembangan kemampuan membaca, menulis, matematika, bahasa, analisis dan pemecahan masalah. Menurut Richard Easterlin,2 dalam pidatonya di muka Asosiasi Sejarah Ekonomi, “sejak Perang Dunia II, sistem pendidikan massal yang modern telah dikembangkan hampir di setiap tempat, (mendukung penyebaran teknologi) dan (tidak lama setelah itu) penyebaran pertumbuhan ekonomi moderen berkembang lebih pesat”.
1 Lihat Walter W. McMahon “Investment in Education and U.S. Productivity Growth: Macrodynamic Model Estimates and Simulations,” “Working Paper, Dept. of Economics, University of Illionis, Urbana. (1992); Walter W. McMahon and Boediono, “Universal Basic Education: An Overall Strategy of Investment Priorities for Economic Growth,” “Economies of Education Review, Vol. II, No. 2, April 1992; David Wheeler, John Harris, and L. Irianiwati. “Education and Productivity in Indonesia Industry,” Working Paper, Development Studies Project II, BAPPENAS-BPS, Jakarta, 1989.
2 Richard Easterlin “Why Isn’t Whole World Developed?,” Presidential Address to the Economic History Association, The Journal of Economic History, Vol. XLI, 1981, hal. 1.