Ivan Illich, yang menjadi mode untuk dikutip-kutip itu, memang seorang yang radikal. Dia memang berjasa besar ketika mampu menelanjangi kebobrokan sistem pendidikan yang ada. Tetapi usulnya untuk menghapuskan saja seluruh bentuk kelembagaan sekolah ternyata kurang realistis dan tawaran alternatifnya tentang jaringan belajar (learning webs) masih dapat disangsikan. Illich yang radikal itu memang segera merebut simpati berjuta-juta orang di belahan bumi yang tergolong Dunia Ketiga. Tetapi hanya berhenti pada simpati, karena proses pendidikan di negeri-negeri itu tetap berlangsung seperti sediakala. Tidak ada perubahan, apalagi yang radikal.
***
Demikian juga kita, di sini dan hingga waktu ini, belum beranjak ke suatu perubahan. Dan kalau relevansi pendidikan itu masih dipersoalkan maka yang muncul adalah perdebatan klasik sekaligus klise: Apakah sistem pendidikan itu harus berorientasi kepada pendidikan praktis (keterampilan) ataukah pada peningkatan intelektualitas. Seolah-olah seorang “praktisi” tidak dapat menjadi seorang “intelektual”, dan sebaliknya jangan mengharapkan seorang “intelektual” mampu memiliki keterampilan “praktis”. Syukur, kalau sistem pendidikan kita memberikan kedua-duanya dan dengan pertimbangan kondisi dan waktu tertentu, yang satu dapat lebih dahulu diutamakan dari yang lain. Tetapi dapat juga terjadi, kedua-duanya diberikan tetapi mengambang!
Ketika diharuskan mengambil sikap, maka perdebatan ini kembali muncul: mana yang harus dipilih? Karena pembangunan atau moderenisasi masih terus bergema, orang cenderung memilih yang pertama: pendidikan praktis (keterampilan), agar lebih fungsional terhadap tuntutan pembangunan. Pendidikan diharapkan menghasilkan tenaga-tenaga yang trainable sekaligus marketable dalam pasaran kerja. Maju setingkat lagi, mereka diharapkan mengisi teknostruktur dalam masyarakat.
Namun di sini dapat dipersoalkan kembali, kalau orientasi pendidikan dituntut fungsional terhadap pembangunan, pembangunan macam apa? Tegasnya pembangunan untuk siapa? Seringkali, tuntutan demikian hanya melahirkan “robot-robot” yang dikendalikan dalam mekanisme suatu sistem tertentu. Lebih parah lagi kalau struktur sosial di mana pendidikan (sebagai sub-sistemnya) itu berlangsung adalah struktur yang pincang, didominasi oleh kepentingan politik dan ekonomi tertentu. Di sana, pendidikan hanyalah alat untuk menopang kelangsungan struktur tersebut dengan segala kepincangannya.
***
Memberi terlalu banyak harapan (dan juga tuntutan) kepada pendidikan, dapat menyesatkan. Pendidikan hanyalah salah satu bagian (walaupun bagian yang penting) dari suatu tatanan sosial yang lebih luas dan kompleks. Jangan mengeluh tentang pendidikan yang mahal dan tidak merata, pendidikan yang tidak demokratis, kalau tatanan sosial itu sendiri tidak adil dan tidak demokratis. Di situ pendidikan hanyalah refleksi dari tatanan sosial yang ada. Ivan Illich mungkin benar. Tetapi pikiran radikal itu sukar terwujud bagi kita di sini. Dan karena itu tetap berputar-putar pada lingkaran setan yang tak berujung pangkal. Bagaimana menembusnya? Seorang teman berkelakar, “tangkap dulu setannya”.