Prisma

Penduduk Miskin di Jakarta*

Secara keseluruhan hanya sedikit yang diketahui tentang penduduk miskin di berbagai kota besar di negeri-negara berkembang. Sebagian besar pengetahuan kita atas masalah ini datang dari penelitian-penelitian mengenai “kebudayaan kemiskinan” di kalangan penduduk miskin di kota yang diperhitungkan sebagai satuan-satuan keluarga atau berdasarkan tingkah laku politik mereka secara kolektif.1 Oleh karena itu, suatu studi mengenai golongan penduduk berpendapatan rendah di ibukota Indonesia ini dapat memberi kita informasi yang berguna, walaupun ia tidak terlepas dari banyak kekurangan yang biasa menandai penelitian yang bersandar pada ingatan orang-orang akan berbagai peristiwa yang sudah lampau atau pada pendapat mereka atas sekian tindakan pemerintah yang kuat.

Jakarta tak berbeda dengan kota-kota besar yang padat-penduduk. Penduduknya 5 juta; tingkat pertambahan penduduknya hampir 6% setahun, yang lebih dari separuhnya disebabkan oleh migrasi; 2 dan hampir dua-pertiga dari para migrannya yang umumnya pria berumur antara 15 sampai 29 tahun.3 Pemerintah Daerah yang senantiasa berjuang untuk membuat Jakarta “indah dan teratur” mencoba menahan arus migrasi lebih jauh dan menyingkirkan sekitar 45.000 pedagang kaki lima, 30.000 kaum gelandangan dan 10.000 pelacur.4 Dan seperti biasa, semua sumber daya bertumpuk di kota. Akibatnya, di tahun 1960-an penyediaan fasilitas seperti sekolah, guru, tempat-tidur rumah sakit, dokter, dan listrik pada umumnya selalu harus berlomba dengan pertambahan penduduk. Dan lazimnya semua fasilitas berkumpul di daerah-daerah yang pendapatan penduduknya relatif lebih tinggi. Orang-orang kaya yang berjumlah kira-kira separuh dari penduduk dan yang tinggal di pusat atau di selatan Jakarta memiliki 140 apotik, 1.000 dokter, 5.300 tempat-tidur rumah sakit, dan 600 sekolah; sementara penduduk miskin hanya memiliki 90 apotik, 320 dokter, 2.500 tempat-tidur rumah sakit, dan 500 sekolah.

Singkatnya, dalam banyak hal Jakarta boleh dikatakan sama saja dengan kota-kota besar lainnya di kalangan Dunia Ketiga. Sebuah studi mengenai penduduknya yang berpenghasilan rendah meliputi tiga kelompok yang saling menjangkau (tumpang tindih). Sebuah daftar pertanyaan “test awal” digunakan untuk mewawancarai 518 pekerja berpendapatan rendah yang kebetulan dijumpai di jalan-jalan kota. Tiap orang dalam sejumlah pekerjaan tertentu harus diwawancarai. Sampel seperti ini sangat berguna bagi golongan yang pendapatannya paling rendah karena banyak dari mereka yang tidak memiliki tempat tinggal tetap dan hidup di kota secara ilegal sehingga seringkali tak tersentuh oleh penelitian yang diadakan di daerah-daerah pemukiman.


* Artikel ini merupakan terjemahan dari “The Poor of Jakarta” yang dimuat dalam Economic Development and Cultural Change, Oktober 1975. Paper ini tidak akan pernah ditulis tanpa survei yang meluas yang merupakan landasannya. Rangkaian survei dilakukan sejalan dengan petunjuk seorang Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang sumbangan-sumbangan analitisnya buat paper ini tak ternilai harganya. Di samping itu saya berterima kasih atas kompilasi data-data dan analisa test awal dari Belinda Dapice, kompilasi survei berskala-penuh dari Tooty Budiman, dan atas berbagai komentar dari Ralph Beals, John Harris, dan Hanna Papanek. Paper ini juga merupakan bagian riset yang diorganisir oleh Badan Penasehat Pembangunan (Development Advisory Service) Universitas Harvard buat BAPPENAS dengan dana Badan Pembangunan Internasional AS. Tetapi meskipun saya berterima kasih atas semua bantuan ini, mereka semua tentu saja tidak bertanggung jawab atas semua pendapat yang saya paparkan

1 Misalnya R. Critchfield, The Golden Bowl Be Broken (Bloomington: Indiana University Press, 1974); O. Lewis, Lima Keluarga (New York: Perpustakaan Amerika Baru, 1971); J.M. Nelson, Migran, Kemiskinan Perkotaan, dan Ketidakstabilan di Negara Berkembang, Makalah Sesekali, No. 22 (Cambridge, Mass: Pusat Urusan Internasional Universitas Harvard, 1969).

2 Berita Bisnis, 6 April 1972.

3 Nathan Keyfitz, “Migran ke Jakarta, 1961-1971”, stensilan (n.d.).

4 Ekonomis, 10 April 1972).

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan