Prisma

Penelitian Sumber-sumber Gerakan Mesianis

Pada bulan November 1885 para pemilik tanah dari desa Patik, (Kawedanan Pulung; Kabupaten Ponorogo, Karesidenan Madiun) yang berjumlah kira-kira 100 orang mengangkat carik-desa mereka sebagai ratu baru dengan gelar Pangeran Lelono, yang akan menghapuskan pajak-pajak. Selain itu, gerakan bertujuan untuk membunuh semua pejabat Belanda setempat. Sebab mereka membebani rakyat dengan pajak-pajak tinggi yang merusak “wong-cilik” yang “tidak bisa memakai celana karena uangnya dipakai untuk membayar pajak”. Pemberontakan ini dapat dipadamkan dalam satu hari tanpa meminta korban manusia. Hanya rumah kontrolir Belanda di Pulung dirusak.1 Biarpun isyu yang dikemukakan para pemberontak adalah soal pajak, tetapi para pejabat Belanda yang meneliti persoalan ini mengabaikannya. Hanya secara kebetulan saja soal pajak itu terbongkar. Ternyata sejak 1883 pajak desa Patik setiap tahun naik dan untuk 1886 akan menjadi lebih tinggi lagi. Lebih-lebih karena pajak yang dipungut dari para pemilik tanah ini tidak sesuai dengan statistik resmi (6,1%) tetapi mencapai 16,1% dari penghasilan seorang petani.


1

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan