Dalam penulisan sejarah pergerakan nasional, kamp konsentrasi Boven Digoel agak terlupakan, karena historiografi kolonial yang tidak menempatkan pemberontakan radikal 1926 sebagai bagian pergerakan nasional, melainkan pergerakan komunis internasional. Konteks pasca ’65 pun sering dipakai untuk menilai peristiwa 1926 itu. Namun, dalam melakukan interpretasi sejarah yang obyektif ilmiah seharusnya diperlihatkan perbedaan ruang dan waktu antar peristiwa.
ORANG Belanda menyebutnya sebagai deportatiekamp Boven-Digoel. Daerahnya di hulu sungai Digul, 450 km dari pantai selatan Irian Jaya sekarang. Tempat itu dapat dicapai dengan kapal api, berlayar selama tiga hari dari pantai, yang pada malam hari membuang jangkarnya di sungai itu. Di tempat yang telah ditentukan, hutan belukar Irian Jaya ditebang. Di situ didirikanlah barak-barak penampungan bagi para tawanan dan keluarganya yang dituduh terlibat dalam pemberontakan komunis di tahun 1926/1927. Sebuah anjungan didirikan juga di tepi sungai untuk menurunkan orang dan barang-barang yang diperlukan bagi pemukiman paksa di tempat itu. Kemudian muncul rumah-rumah kecil bagi mereka yang telah berkeluarga. Di dekat permukiman itu didirikan pos pemerintahan dan perumahan bagi kurang lebih 100 serdadu KNIL, sebuah poliklinik, sebuah masjid, dan sebuah sekolah pemerintah. Juga ada gereja Protestan dan Katolik dengan sebuah sekolah mininya. Ada pula tempat generator untuk pembangkit tenaga listrik, yang pada mulanya tentu hanya dipakai untuk keperluan pos pemerintah dan militer.
* Tulisan ini disusun berdasarkan rekaman hasil percakapan Redaksi Prisma dengan penulis.