Prisma

Penerapan Teknologi dan pengaruhnya terhadap Kesempatan Kerja: PENGALAMAN INDONESIA*

Kerangka Masalah

Selama bagian akhir pemerintahan Presiden Sukarno – karena inflasi yang semakin memburuk dan luapan nasionalisme radikal yang berlangsung pada waktu itu – ekonomi Indonesia mengalami stagnasi dan neraca pembayaran yang memburu. Negeri ini cenderung mengisolasikan diri dari Barat sementara pada pihak lain sejumlah bantuan ekonomi yang cukup berarti dari negeri-negeri sosialis dan kredit donor beberapa negara Barat (termasuk Jepang) dibayarkan dalam bentuk peralatan pabrik. Sejumlah proyek industri memang dalam pertimbangan, tapi sayangnya, jarang yang berjalan.

Sejumlah peralatan juga diimpor melalui sistim alokasi valuta asing sementara mata uang rupiah semakin merosot nilainya. Karena alokasi valuta asing untuk bahan-bahan mentah tidak banyak, maka tingkat penggunaan kapasitas adalah rendah akan tetapi peralatan-peralatan baru terus dicari karena kapasitas yang tersedia (bahan mentah) merupakan basis sistim alokasi. Banyak tenaga lama dan baru tetap diperkerjakan oleh perusahaan-perusahaan karena biayanya murah dan karena kebijaksanaan ini disukai oleh pemerintah dan partai komunis serta serikat-serikat buruh afiliasinya yang pada waktu itu sangat berpengaruh. Departemen-departemen pemerintah dan perusahaan negara juga sarat dengan majikan dan tenaga kerja baru.

Karena semua ini maka situasi ketika itu mengandung suatu kejanggalan, dalam arti bahwa sementara situasi ekonomi semakin parah, efek distributif dalam ukuran pengangguran dan pendapatan tidak menciptakan ketegangan-ketegangan sosial yang eksplosif. Bahkan ketika ketegangan politik memuncak oleh menghangatnya konfrontasi kaum komunis dengan lawan-lawannya dan meskipun umumnya inflasi dan situasi ekonomi yang memburuk mungkin mendorong ketegangan ini, masyarakat umum tidaklah terlalu sensitif terhadap problema distributif dalam pengangguran. Tetapi hendaknya diingat bahwa kaum komunis terus menerus beragitasi melawan sisa-sisa tuan tanah yang ada di pedesaan, kaum kapitalis kecil dan birokrat, yang oleh kaum komunis dianggap sebagai kekuatan pemaksa dan penindas. Dengan demikian mereka selalu mencoba mempertahankan image sebagai kampiun pembagi keadilan, bahkan dengan kerugian diabaikannya pertumbuhan ekonomi.


* Artikel ini berasal dari paper yang disampaikan penulis pada forum seminar internasional mengenai Technology and Development yang berlangsung di New Delhi (India) pada tanggal 21 – 24 Maret 1973. Naskah paper tersebut diberikan kepada PRISMA, dan diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Redaksi.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan