Di sini saya mempergunakan dua istilah yang sebaiknya saya jelaskan dahulu, supaya jangan terjadi kekacauan arti. Kedua istilah itu ialah “buku bacaan” dan “buku sastra”.
Istilah “buku bacaan” mungkin terasa lucu, karena bukankah semua buku itu bacaan adanya? Tetapi istilah ini sudah terlanjur umum, dimaksudkan untuk menyebut jenis buku tertentu, terutama buku-buku fiksi dan bacaan kanak-kanak. Dengan demikian istilah ini meliputi pengertian roman atau novel, kumpulan cerita pendek, drama, syair, hikayat, dan semacamnya. Sedangkan istilah “buku sastra” di sini dipakai dalam artinya yang sempit, yaitu karya-karya fiksi dan non-fiksi yang bersifat lebih sungguh-sungguh. Barangkali istilah yang lebih tepat ialah “susastra”; tetapi istilah itu kurang umum dipakai. Istilah sastra sendiri dalam arti asalnya (“sastra”) meliputi segala macam tulisan, termasuk tentang etika, filsafat, dan terutama agama.
Maka sebenarnya dapat juga dikatakan bahwa “buku bacaan” itu meliputi juga “buku sastra”; atau bahwa “buku sastra” itu merupakan bagian dari “buku bacaan”. Karena sifatnya yang mau bersungguh-sungguh, yang lebih mementingkan ekspresi seni penulisnya dalam mempergunakan bahasa, maka peminat buku sastra lebih sedikit jumlahnya ketimbang peminat buku bacaan yang umum. Ada kecenderungan-di Indonesia juga-orang awam yang menyukai membaca roman ataupun novel, akan mengangkat hidung apabila mendengar bahwa kita hendak memberinya buku sastra. Istilah sastra diasosiasikan dengan sesuatu yang berbobot, yang berat, yang bukan bacaan umum.
Pandangan semacam itu tidak hanya terdapat pada kalangan pembaca awam, tetapi juga terdapat di kalangan penerbit sendiri. Kalau mendengar bahwa naskah yang disampaikan kepadanya itu naskah sastra adanya, maka dengan serta merta ia mengembalikannya kepada pengarangnya dengan berbagai dalih.
Buku-buku bacaan yang bukan sastra itu kadang-kadang diberi istilah sendiri. Pernah istilah “roman picisan” dipergunakan untuk menyebutnya. Istilah itu dipergunakan untuk menyebut roman-roman bulanan yang diterbitkan di Medan, Surabaya, bahkan juga Jakarta pada masa sebelum perang. Istilah itu tidak dipakai lagi tahun limapuluh-an. Istilah yang dipergunakan pada waktu itu ialah “bacaan hiburan”. Dan pada tahun tujuh puluhan, istilah yang dipergunakan ialah “novel pop”. Istilah itu barangkali kurang tepat, karena di samping novel, sebenarnya terdapat pula buku-buku kumpulan cerita pendek.
Kebudayaan kota
Kalau naskah-naskah kuno, baik yang ditulis di atas lontar maupun di atas kertas, kita anggap buku, maka bangsa kita sudah mengenal buku sejak berabad-abad yang lampau. Tetapi buku sebagai hasil penemuan teknologi percetakan dengan sifatnya yang khas, baru kita kenal awal abad ke-19, yaitu setelah percetakan diperkenalkan di sini. Buku-buku terjemahan kitab Injil ke dalam berbagai bahasa daerah merupakan salah satu jenis buku yang permulaan. Buku-buku bacaan ditulis dan diterbitkan orang mendekati akhir abad ke-19, sesuai dengan kemajuan-kemajuan yang diperoleh dalam bidang persuratkabaran dan permajalahan. Para wartawan yang menulis berita-berita sensasional dalam halaman-halaman suratkabarnya kemudian menuliskan kembali laporannya dan menerbitkannya dalam bentuk buku. Karena itu selalu mereka memberi keterangan bahwa kisah yang diceritakannya itu benar-benar kejadian. Banyak pula yang ditulis berdasarkan laporan pengadilan. Kisah Nyai Dasima yang sekarang sudah menjadi cerita klasik cerita lenong, ditulis oleh wartawan G. Francis pada tahun 1896, berdasarkan kisah yang sebenarnya, yang pernah menggemparkan masyarakat Jakarta. Di samping itu ada kisah Nyai Isah karya F. Wiggers; dan kisah Rosina karya F.D. J. Pangemanan.
* Karangan ini merupakan perkembangan lebih luas dari karangan saya “Penerbitan Buku Sastra dan Masalah-masalahnya” yang dimuat dalam buku Pembinaan Minat Baca, Apresiasi dan Penelitian Sastra (Jakarta, 1973).